Motif pembunuhan sadis yang menimpa Dini Hardiyanti (30) dan balitanya, Arshaka Ghafa El Faezya (4), oleh suami sirinya, Dwi Bagus (40) masih misterius. Kuasa hukum keluarga meyakini ada motif terselubung yang lebih mendalam di balik tragedi berdarah ini selain sekadar isu kecemburuan Dini kepada istri sah.
Masih tersisa tanda tanya besar dari hasil pengungkapan kasus pembunuhan sadis yang menimpa Dini dan balitanya. Dugaan polisi aksi keji ini dipicu rasa cemburu Dini hingga memantik pertengkaran. Sementara pihak keluarga meyakini ada misteri motif yang lebih mendalam di balik tragedi tersebut.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jatim, Kombes Roy H M Sihombing menjelaskan bahwa pemeriksaan awal mengindikasikan peristiwa dipicu oleh kekesalan pelaku akibat emosi dan kecemburuan korban terkait status pernikahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Motifnya kemungkinan masalah dendam ya, emosi. Emosi karena memang peristiwa yang melatarbelakangi bahwa pada saat itu si suami ini juga kan punya istri sah. Nah, ada komunikasi dengan istri sah. Kemudian yang perempuannya merasa cemburu," ungkap Roy, Selasa (27/10/2026).
Pertengkaran itu diduga terjadi di hotel di Kota Madiun. Pada saat itulah Bagus melancarkan aksi kejam dengan mencekik Dini hingga tewas lalu membunuh anak Dini di dalam mobil. Pelaku berupaya menghilangkan jejak dengan membakar dan menggiling jenazah korban.
"Setelah dibakar dimasukkan ke dalam penggilingan daging ya. Kemudian setelah itu dibakar lagi dan baru rencananya dibuang ke laut," lanjut Roy.
Namun, kuasa hukum keluarga korban menilai motif kecemburuan saja tidak masuk akal untuk menjelaskan aksi sekejam itu. Pengacara keluarga, Ikbal Sermaf, membeberkan bukti pesan singkat yang menunjukkan Dini sempat berada dalam ketakutan mendalam dan enggan kembali ke Madiun.
"Jadi ketakutan itu ada, mungkin bahasa-bahasa yang menjadi ketakutan bagi korban itu sendiri lewat send-message sehingga korban berpikir ada ancaman. Kalau motivasi dia melakukan ini, kalau dasar cocok-cocok itu kan umum, tapi kami belum menemukan orkestrasi sampai terjadi pembunuhan yang cukup sadis ini," tegas Ikbal.
Ikbal menilai dugaan motif pembunuhan karena Dini cemburu kurang cukup kuat untuk menjelaskan alasan pelaku sampai hati melakukan aksi pembunuhan sadis dan sistematis terhadap ibu dan anak tersebut.
Sebab, kata Ikbal, selama tiga tahun membina hubungan nikah siri di Samarinda hingga pindah ke Ponorogo, hubungan keduanya relatif terlihat normal tanpa ada riwayat pertengkaran besar.
"Kalau motivasi dia melakukan ini kan saya harus bisa melihat pada dasarnya memang kalau dasar cocok-cocok itu kan dasar yang umum, tapi kan kami belum menemukan terkait dengan orkestrasi sampai terjadi hal-hal pembunuhan yang cukup sadis dan kejam seperti ini," tegasnya.
Sebelumnya, Dini dan anaknya dilaporkan hilang sejak 20 September 2026. Keluarga sempat mencurigai sejumlah kejanggalan, termasuk keterangan Dwi Bagus yang berubah-ubah mengenai lokasi pertengkaran mereka.
Keluarga juga menerima pesan yang mengatasnamakan Dini dan menyebut korban pergi ke Medan, tetapi mencurigai pesan itu bukan dikirim langsung oleh korban. Keluarga melaporkan hilangnya ibu dan anak tersebut ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026.
Polisi kemudian menyelidiki laporan itu hingga mengarah kepada Dwi Bagus, yang akhirnya ditangkap di rumah temannya di Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, pada Minggu (25/10/2026) malam.























































