Perum Bulog Kanwil Sumatera Selatan dan Bangka Belitung memastikan pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayahnya dalam kondisi kondusif. Sebanyak 400 mitra Bulog atau Rumah Pangan Kita (RPK) yang ada di area Palembang mendapat pasokan beras sesuai dengan ketentuan yang seharusnya.
Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Sumsel Babel, Renato Horison mengatakan selain menyalurkan beras SPHP ke mitra Bulog di pasar tradisional, pasokan juga dikirim ke semua RPK di area Palembang. Dalam satu minggunya, beras yang dipasok sekitar 1 ton beras SPHP.
"Kita memasok ke mitra kita, RPK. Ini sebagai komitmen mendekatkan beras SPHP kepada masyarakat luas. Setiap minggunya masing-masing sebanyak satu ton beras atau sekitar empat ton dalam satu bulan. Beras yang kita pasok ini dalam kemasan 5 kilogram. Ada sekitar 400 RPK yang menjadi sasaran kita," kata Renato, saat melakukan monitoring beras SPHP di sejumlah RPK di Palembang, Jumat (30/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Renato menyebut pada 2026 ini Bulog ditargetkan mampu menyalurkan 33.000 ton beras SPHP kepada masyarakat melalui RPK atau mitra penyalur. Hingga kini, sudah ada sekitar 30.000 ton beras. Artinya, sudah tersalur sebanyak 90 persen.
Beras yang dipasok ini, kata dia, selalu dimonitoring oleh tim Bulog. Monitoring tersebut rutin dilakukan setiap harinya, bahkan terlapor dalam sistem khusus.
"Proses pendistribusian beras ini, mulai dari pemesanan hingga barang sampai di tangan mitra, semuanya terlapor dan tercatat di CS (system khusus di customer services). Karenanya, ini dapat menekan atau mengentaskan adanya temuan menyimpang dari orang tak bertanggung jawab," kata dia.
Renato menyebut monitoring pasokan beras SPHP ini dinilai penting agar dapat memastikan program stabilisasi pangan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan upaya mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Dia menjelaskan penguatan pengawasan menjadi langkah penting dalam menjaga integritas pelaksanaan program SPHP sekaligus memastikan seluruh mitra penyalur menjalankan tanggung jawabnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Tak hanya memastikan penyaluran aman dan tepat sasaran, Bulog juga berkomitmen dalam menjaga kualitas beras SPHP hingga di tangan masyarakat.
Renato menjelaskan pemeliharaan beras di gudang Bulog dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan awal saat beras masuk, hingga pengawasan rutin harian, mingguan, bulanan, hingga semester. Setiap gudang juga dijaga kebersihannya melalui sanitasi, spraying, dan fumigasi bila ditemukan indikasi hama atau penurunan mutu.
"Saat dilakukan re-packing juga kita memastikan bahwa kualitas beras tetap terjaga. Kualitas beras ini juga terus kita monitoring secara berkala hingga saat disalurkan ke mitra penyalur atau RPK," kata dia.
Pemilik RPK MCP Palembang, Afriyanti mengatakan Bulog menyalurkan beras SPHP sebanyak satu ton dalam satu pekan. Namun biasanya, pasokan ini sudah habis pada hari kelima.
"Antusias masyarakat kepada beras SPHP ini cukup tinggi. Karenanya stok satu ton tersebut biasanya ludes hanya lima hari. Padahal dari kami sudah menerapkan pembatasan pembelian kepada konsumen. Banyak masyarakat yang memilih beras ini karena kualitasnya sudah sama dengan merek lain," kata dia.
Afriyanti menuturkan selisih harga antara beras SPHP dan merek lain juga menjadi faktor utama.
"Beras SPHP dijual dengan harga Rp 62 ribu per kemasan 5 kilogram, sementara beras merek lain di atas Rp 80 ribu. Belum lagi beras merek lain dengan kemasan 5 kilogramnya pasokannya minim, jadi sulit didapat masyarakat luas," kata dia.
Sama halnya dengan Diosi Arisandi, pemilik RPK Diosi Palembang. Dia menyebut bahwa stok beras yang dikirim ke tokonya hanya sebanyak satu ton seminggu.
"Bulog konsisten mengirim sebanyak satu ton beras SPHP ke toko kami setiap minggu. Tapi memang minat masyarakat di sini cukup besar, sehingga biasanya hanya bertahan 4-5 hari saja. Dan kami menunggu hingga pasokan selanjutnya dikirim kembali ke sini," kata dia.
Harga beras SPHP yang cukup rendah dibanding beras merek lain menjadi pemicu antusias besar masyarakat dalam membeli beras ini.
"Harganya jauh jika harus dibandingkan dengan merek lain. Tapi agar semua bisa mendapat beras ini, kami membatasi pembelian. Satu orang konsumen hanya bisa mendapat atau membeli 2 karung beras kemasan 5 kilogram," jelasnya.



























































