Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) atau yang biasa disebut juga Hari Uang Nasional diperingati setiap 30 Oktober untuk mengenang diterbitkan dan beredarnya Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai mata uang pertama milik Indonesia dan menjadi alat pembayaran yang sah pada 1946.
Momentum ini menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia membangun kedaulatan ekonomi setelah merdeka.
Di Bandung, jejak sejarah keuangan dapat ditemukan melalui sejumlah bangunan peninggalan masa kolonial hingga museum yang menyimpan koleksi perkembangan pengelolaan keuangan negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga berkaitan erat dengan perjalanan perbankan dan administrasi keuangan di Indonesia.
Bagi detikers yang tertarik menelusuri sejarah keuangan sambil berwisata heritage, berikut daftar tempat yang menjadi jejak sejarahnya di Bandung.
1. Gedung Bank Indonesia Bandung
Gedung yang berlokasi di Jalan Braga No 2, Kota Bandung ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan perbankan di Indonesia.
Sebelum digunakan sebagai Kantor Perwakilan Bank Indonesia, gedung ini merupakan kantor cabang De Javasche Bank, bank yang berperan dalam sistem keuangan pada masa kolonial.
Menurut publikasi Bank Indonesia, pembangunan gedung tersebut dimulai pada 1915. Setelah melalui proses pembangunan selama lebih dari tiga tahun, kantor cabang De Javasche Bank Bandung resmi dibuka pada 5 Mei 1918.
Bangunan ini memiliki tampilan simetris dengan unsur arsitektur klasik yang terlihat pada bagian fasad dan tiangnya. Keberadaannya menjadi saksi perkembangan kegiatan perbankan di Bandung pada awal abad ke-20.
Setelah De Javasche Bank dinasionalisasi dan berubah menjadi Bank Indonesia pada 1953, gedung tersebut menjadi bagian dari perjalanan lembaga bank sentral Indonesia.
Museum Perbendaharaan Bandung, Menjadi Sarana Wisata Edukasi dalam Sejarah Pengelolaan Keuangan Negara Foto: Daffa Sarja/detikJabar |
2. Museum Perbendaharaan
Jika ingin mengenal sejarah pengelolaan keuangan negara secara lebih mendalam, Museum Perbendaharaan bisa menjadi tujuan utama.
Museum ini berada di Gedung Dwi Warna, bangunan bersejarah yang sekarang digunakan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Barat.
Berlokasi di Jalan Diponegoro No 59, Kota Bandung, Museum Perbendaharaan diresmikan pada 2016 dan dibuka untuk masyarakat umum setahun kemudian, yaitu pada 2017. Keberadaannya ditujukan sebagai sarana edukasi mengenai perkembangan administrasi dan pengelolaan perbendaharaan negara dari masa ke masa.
Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan dokumen sejarah, foto, peralatan kantor, serta koleksi yang menggambarkan perkembangan sistem perbendaharaan.
Koleksi tersebut membantu pengunjung memahami bagaimana administrasi keuangan negara dijalankan sebelum berkembang menjadi sistem yang digunakan saat ini.
Gedung Dwi Warna sendiri juga memiliki kaitan dengan Konferensi Asia-Afrika 1955; bangunan ini dulu digunakan untuk sejumlah rapat komite dalam rangkaian konferensi tersebut.
3. Gedung Denis Bank
Gedung Denis Bank menjadi salah satu bangunan ikonik di kawasan Braga. Nama Denis berasal dari NV De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas en Hypotheekbank, lembaga perbankan yang pernah menempati bangunan tersebut pada masa Hindia Belanda.
Berdasarkan dokumentasi bangunan cagar budaya dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, gedung ini dirancang oleh arsitek A.F. Aalbers dan dibangun pada pertengahan 1930-an.
Bangunannya dikenal melalui bentuk fasad yang melengkung dan garis horizontal yang mencerminkan gaya arsitektur modern pada masanya.
Selain berkaitan dengan sejarah perbankan, gedung ini juga menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan. Pada Oktober 1945, dua pejuang Indonesia merobek bagian biru bendera Belanda yang berkibar di bangunan tersebut sehingga tersisa warna merah dan putih.
Kini, gedung yang berada di Jalan Braga No 12, Kota Bandung, tepatnya di kawasan persimpangan Braga dan Jalan Naripan ini dikenal sebagai bangunan yang ditempati Bank BJB.
Gedung De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas (DENIS), sekarang kantor pusat Bank Jabar Banten (BJB). Foto: Hanifah Salsabila |
4. Gedung Nedhandel NV
Bangunan bersejarah lainnya yang berkaitan dengan dunia perbankan adalah Gedung Nedhandel NV di Jalan Asia Afrika yang dibangun pada 1912 untuk Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), perusahaan dagang Belanda yang kemudian berkembang di bidang perbankan.
Gedung tersebut dirancang oleh biro arsitektur Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers. Bangunannya memiliki karakter arsitektur neo-klasik yang terlihat dari bentuk fasadnya yang kokoh dan teratur.
Lokasinya berada di Jalan Asia Afrika No 61, tepat di seberang kawasan Alun-alun Bandung. Kini gedung tersebut digunakan oleh Bank Mandiri.
Perjalanan gedung ini memperlihatkan bagaimana bangunan yang awalnya digunakan oleh lembaga keuangan pada masa kolonial terus mengalami perubahan fungsi seiring perkembangan zaman.
Itulah beberapa tempat di Bandung yang dapat menjadi titik awal untuk menelusuri sejarah perbankan dan pengelolaan keuangan negara. Masing-masing tempat tersebut ternyata menyimpan cerita dan jejak tentang perubahan sistem keuangan negara Indonesia dari masa ke masa.
Dalam momentum Hari Oeang Republik Indonesia atau Hari Uang Nasional yang diperingati setiap 30 Oktober, perjalanan sejarah tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberadaan mata uang sendiri merupakan bagian penting dari kedaulatan negara Indonesia tercinta.
(sud/sud)
























































