Hutan hujan Amazon tadinya menjadi penyerap karbon dioksida (CO2) terbesar di dunia. Namun kini berfungsi sebaliknya. Imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta deforestasi manusia!
Alih-alih menyerap karbon dioksida, selama 15 tahun terakhir, hutan raksasa tersebut justru melepaskan sekitar 1,3 miliar ton karbon dioksida per tahun, demikian dilansir dari Earth.com, Senin (26/10/2026), dikutip Jumat (30/10/2026).
Hal ini adalah kesimpulan riset yang dikomandani Luciana Gatti, ilmuwan iklim yang mengelola Laboratorium Gas Rumah Kaca di Institut Nasional Penelitian Antariksa Brasil (INPE).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timnya menerbangkan pesawat kecil di atas hutan dua kali sebulan dari tahun 2010 hingga 2024 untuk mencari tahu apa yang menyebabkan kerusakan tersebut. Jawabannya adalah manusia, dengan kekeringan yang memperparah kerusakan.
Ambil Sampel Udara di Atas Amazon Selama 15 Tahun
Prinsip dasarnya: tumbuhan menyerap karbon dioksida saat tumbuh dan melakukan fotosintesis dan melepaskannya kembali saat membusuk atau terbakar. Hutan Amazon menyimpan sekitar 136 miliar ton karbon di pepohonan dan tanahnya.
Untuk mengukur keseimbangan karbon hutan, tim tersebut mengambil sampel udara di empat lokasi di seluruh cekungan.
Tim riset Gatti mengambil sampel udara di atas hutan hujan Amazon dari ketinggian sekitar 14.400 kaki (4.389,12 meter) di atas permukaan tanah Amazon ke sekitar 1.000 kaki (304,8 meter), selama 15 tahun, dari tahun 2010 hingga 2024.
Pesawat tim riset Gatti mengisi tabung-tabung di 12 ketinggian berbeda. Setiap tabung diuji untuk karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO), gas yang dihasilkan oleh api.
Para peneliti membandingkan hasil keduanya dan dapat membedakan apakah CO2 ini berasal dari kebakaran atau dari yang diserap atau dilepaskan oleh hutan yang hidup. Udara bersih dari Atlantik, yang diukur oleh NOAA, berfungsi sebagai dasar perbandingan.
Analisis Dibagi 3 Periode
Dari 15 tahun pengambilan sampel, tim riset Gatti mengelompokkannya kepada 3 periode yakni:
1. Enam Tahun Penuh Hujan
Periode pertama adalah 2011 hingga 2014, 2017, dan 2018. Enam tahun ini termasuk basah dengan sedikit penebangan atau pembakaran
Hutan yang tumbuh menyerap sekitar 64% karbon dari karhutla, dan Amazon hampir seimbang.
2. Tahun Deforestasi Hutan Hampir 100%
Pada 2019 hingga 2022, cuacanya tidak beda jauh dengan tahun basah. Hanya saja, tingkat deforestasi per tahunnya mencapai 97% lebih tinggi diikuti dengan emisi dari hutan yang naik empat kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.
Kesimpulan pada periode ini adalah tekanan iklim tidak begitu besar sehingga yang menjadi penyebab utama meroketnya emisi hutan adalah aktivitas manusia berupa penebangan dan perusakan hutan.
3. Lima Tahun yang Sangat Panas
Cuaca yang panas ini menyerang hutan pada 2010, 2015, 2016, 2023, dan 2024, tepatnya ketika El Nino membuat curah hujan berkurang dan suhu justru meningkat.
Curah hujan pada tahun-tahun ini berkurang hingga 13%, diikuti dengan karhutla hingga 92% lebih banyak.
Karhutla karena Petir Persentasenya Sangat Kecil
Pada data 2023 dan 2024, tim peneliti menganalisis kontribusi petir terhadap kebakaran hutan. Mereka mencocokkan sambaran petir dengan setiap kebakaran yang terdeteksi dalam kurun waktu tiga hari dan dengan jarak dua per tiga mil (1,0729 km).
Hasilnya, petir hanya menyumbang 1,6% dari kebakaran yang terjadi pada 2023 dan tepat 1% pada 2024. Di tahun yang sama, 2024, emisi CO2 mencapai 3,3 miliar ton atau tujuh kali lipat dibanding pada tahun basah.
Oleh MapBiomas, area yang terbakar dipetakan dan memperlihatkan bahwa luasnya 182% lebih besar dibandingkan tahun basah. Ditambah, sebanyak 38% deforestasi dilakukan dengan api. Di tahun ini, pembakaran hutan telah dijadikan alat untuk membuka lahan baru.
Hutan Hujan Tersisa Tak Optimal Serap Karbon
Setelah dikurangi dampak kebakaran, hutan hidup berada dalam kondisi hampir netral di ketiga periode riset tersebut. Artinya, hutan hujan tersisa tak lagi mampu menyerap cukup air untuk mengimbangi dampak kebakaran. Alasannya, imbuh Gatti, masih belum jelas.
"Kita melihat hutan menyerap semakin sedikit karbon. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah ini terjadi karena vegetasi melakukan fotosintesis lebih sedikit atau mengalami dekomposisi lebih banyak?" kata Gatti.
Sejak tahun 2022, kelompoknya telah menganalisis gas yang disebut karbonil sulfida, yang berfungsi sebagai penanda fotosintesis. Gatti mengatakan bahwa pekerjaan itu seharusnya membantu menjawab pertanyaan tersebut.
Jadi, kontributor yang paling besar dalam merusak paru-paru dunia ini adalah aktivitas manusia, diperparah dengan kekeringan yang turut merusak hutan hujan Amazon.
"Pesan utama dari penelitian ini sangat mengejutkan: masalah di Amazon adalah aktivitas manusia. Kita kehilangan hutan karena model pembangunan di wilayah ini didasarkan pada perusakan," kata Gatti.
"Kita membutuhkan kebijakan publik yang menghargai hutan yang masih berdiri," tegasnya.
Riset Gatti dan tim telah dipublikasikan dalam jurnal Nature berjudul "Amazon carbon emissions driven by human actions amplified by droughts" pada 21 Oktober 2026 lalu.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
Persepsi Media Kontemporari Kesannya Menggali Pengaruh Persepsi Media Memiliki Mengkaji Jangka(nwk/nwk)































































