Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek Novita Hardini menggagas Green Community Championship (GCC) dalam penguatan seluruh pengurus Tim Penggerak PKK tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa di Lumber Camp, Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Rabu (28/10).
Melalui program ini, Novita ingin mendorong kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah agar tidak menjadi persoalan kompleks yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan, kesehatan, dan gangguan-gangguan lainnya jika tidak ditangani dengan baik.
Kebiasaan masyarakat membuang sampah dengan sekenanya masih dilakukan. Padahal sampah sampah tersebut, seperti sampah rumah tangga dapat dipilah dan digolongkan ke dalam jenis masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal pertama yang dapat dilakukan dalam memilah sampah adalah dengan cara memisahkan sampahnya terlebih dahulu, antara sampah basah dengan sampah kering. Selanjutnya, memilah antara sampah yang masih bernilai ekonomis dan sampah residu yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis.
Masyarakat cenderung tidak memilah sampah ketika membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Hal itu akan menyulitkan petugas sampah memilah sampah-sampah ini di tempat pembuangan sementara maupun tempat pembuangan akhir.
Terdapat beberapa jenis sampah yang membutuhkan waktu lama untuk bisa diurai. Jika menumpuk melebihi kapasitas Tempat Pembuangan Akhir yang dimiliki, maka kedepannya akan menjadikan permasalahan lingkungan.
Dengan semangat mendorong dan mengajak masyarakat untuk memiliki kesadaran mengelola sampah, Novita mencoba menggagas GCC ini. Tujuannya adalah untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan visi misi Net Zero Carbon sekaligus menjaga kelestarian alam demi anak cucu mendatang.
"Hari ini kami melakukan penguatan seluruh Tim Penggerak PKK. Baik kabupaten, kecamatan hingga desa, juga dengan seluruh komponen kecamatan (Forkopimcam) seperti Pak Camat dan Pak Kades mengikuti pembinaan Green Community Championship (GCC)," kata Novita dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).
"Green Community Championship ini kami adakan bukan hanya untuk sebagai euforia semata, tapi tujuan kami menyasar ke akar rumput. Agar setiap rumah tangga itu punya kesadaran bahwa kebersihan dan pemilahan sampah ini sama dengan menyelamatkan anak cucu kita di masa depan," sambungnya.
Novita berharap sampah-sampah yang telah dipilah dapat menjadi sumber-sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
"Di situasi seperti ini kita harus kreatif bagaimana pentingnya ketahanan pangan dimulai dari anak-anak sedini mungkin," pungkasnya.























































