Suara peluit terdengar saat sejumlah kendaraan roda empat memasuki area Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Coco Plaju Palembang.
"Maju, maju. Tahan," ucap pria yang meniup peluit tersebut sembari melambaikan tangannya mengarahkan mobil yang mau antre bahan bakar minyak di SPBU tersebut, Jumat (30/10/2026).
Pria bernama Feriadi inilah yang meniup peluit tersebut. Dia merupakan marshal yang bertugas selama hampir 17 tahun di SPBU Coco Plaju. Dengan ramah, pria yang mengenakan rompi berwarna biru dan merah itu menanyakan kepada pengendara-pengendara mobil terkait BBM apa yang hendak diisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Premium atau Pertamax, Pak?," tanya Feriadi. Setelah mendapatkan jawaban pengendara, Feriadi langsung mengarahkan dan meminta pengendara mengantre di barisan dispenser yang tepat.
Meski cuaca cukup menyengat di siang itu, Feriadi tetap berada di area antrean kendaraan masuk SPBU. Berbekal peluit dan rompi yang digunakan, dia selalu berada di garis depan untuk memastikan tertibnya antrean kendaraan.
"Saya bangga menjadi marshal selama 17 tahun ini. Mungkin orang berpikir pekerjaan saya tidak penting atau tidak bonafit, tapi selagi saya di-support keluarga, maka itu yang akan saya lakukan. Walau setiap hari ada di lapangan, berada di bawah matahari, tapi menjadi marshal mengajarkan saya arti kesabaran," kata dia.
Sebagai seorang marshal, dia memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap pengendara mendapatkan giliran secara adil, tanpa saling menyerobot. Terutama, dalam barisan antrean BBM subsidi, Pertalite, yang ada di SPBU tersebut.
"Biasanya di SPBU ini akan ramai saat jam pergi dan pulang kerja. Antrean kendaraan yang mau mengisi BBM subsidi saat itu akan panjang, karenanya kami selalu standby memastikan bahwa pengendara tetap nyaman dan antrean kendaraan tak menumpuk," ucap pria kelahiran Palembang, 7 September 1977 itu.
Feriadi bercerita antrean panjang pengisian BBM subsidi tak selalu terjadi, ada waktu-waktunya. Biasanya saat weekend, memang antusias pengisian BBM akan lebih padat dibanding hari kerja. Sama dengan operator BBM, marshal juga tak kenal waktu libur saat bertugas.
"Kami selalu mengarahkan konsumen yang mengantre di SPBU ini, dan hampir semua konsumen sudah mengerti makna peluit dan isyarat tangan yang kami lakukan. Karena kami juga menyakini, Masyarakat selaku konsumen sudah memahami, masuk ke dalam antrean dan sabar menunggu sampai tiba di gilirannya," kata dia.
Tak hanya sigap dalam mengatur lalu lalang kendaraan, Feriadi menekankan pada dirinya bahwa pelayanan ramah kepada pelanggan adalah hal terpenting.
"Sebenarnya meski kami ada di garis depan SPBU, kami juga menyadari, yang dibutuhkan oleh konsumen adalah pelayanan yang ramah. Jadi semaksimalmungkin, meski harus tegas dalam mengatur antrean kendaraan, kami juga tetap peduli dan berikan sapaan dan senyuman ke semua pelanggan," kata dia.
Warga Jakabaring ini mengungkapkan di SPBU tersebut ada empat orang marshal, yang bekerja dengan sistem shift. Mulai dari shift pagi, sore, dan malam.
"Semua shift memiliki tantangannya masing-masing. Apalagi saat shift malam hari. Dulu, beberapa tahun yang lalu, daerah ini dikenal dengan wilayah yang berisiko atau rawan, jadi tantangan yang kami hadapi dulu adalah bagaimana caranya menjaga SPBU tetap aman dan masyarakat tetap bisa mendapatkan BBM yang dibutuhkannya," cerita dia.
"Namun sekarang, alhamdulillah, daerah ini sudah sangat aman. Namun kami tetap selalu siap siaga. Tugas marshal sepertinya hanya atur ini atur itu aja, tapi sebenarnya, tanggung jawab dan risiko yang kami hadapi cukup besar," kata dia.
Marshal di SPBU Palembang membantu mengarahkan konsumen yang hendak mengisi BBM. Foto: Dok. Humas Pertamina Patra Niaga Sumbagsel |
Sama halnya dengan Ilham, salah satu marshal yang bertugas di SPBU di Kawasan Ulu Palembang. Dia mengungkapkan tugas marshal tidak hanya sekedar mengatur antrean kendaraan di SPBU saja. Namun juga memastikan bahwa mampu menekan dan mencegah penumpukan kendaraan yang berisiko memicu keriuhan di area pengisian BBM.
"Ini yang dinilai krusial, karena SPBU ini menerapkan pengisian BBM Biosolar mulai pukul 21.00 WIB hingga 05.00 WIB. Jadi peran kami di sini adalah memastikan bahwa antrean kendaraan, terutama truk-truk tidak menutupi badan jalan dan menyebabkan kemacetan. Juga tidak mengganggu pengendara lain. Antrean tetap harus aman dan teratur. Semua konsumen bisa mendapatkan BBM sesuai dengan kebutuhannya," kata dia.
Meski antrean truk-truk memadati sekitar Kawasan SPBU, namun antrean kendaraan pada pagi dan siang hari hampir sama. Bedanya, antrean saat pagi hingga sore hari adalah konsumen yang menggunakan kendaraan-kendaraan kecil dan bukan pengguna Biosolar.
"Setiap hari ada antrean, tapi alhamdulillah sejauh ini di SPBU ini aman. Tidak ada konflik yang begitu berisiko. Memang kerap kali ada konsumen yang emosional saat menunggu antrean, namun kami memastikan bahwa mereka tetap akan mendapatkan BBM yang dibutuhkan asal bersabar menanti, dan semua konsumen terutama sopir truk sudah memahami ini," kata dia.
Jika sedang padat, kata Ilham, marshal yang diturunkan jumlahnya akan lebih dari satu orang. Namun hal tersebut menyesuaikan dengan temuan di lapangan.
"Biasanya satu shift itu ada satu marshal yang bertugas. Tapi jika dalam kondisi ramai maka akan dibantu oleh marshal di shift yang berbeda. Tapi memang sejauh ini, kita dalam kapasitas aman, dan lancar," kata dia.
Di balik banyaknya tantangan tugas seorang marshal, Ilham mengaku cukup bahagia mendapat peran tersebut. Selain bisa menjadi pekerjaan utama yang menopang ekonomi keluarganya, dengan menjadi marshal ada banyak pengalaman kehidupan yang didapat.
"Di sini mengajarkan saya untuk bagaimana cara menghadapi pelanggan. Arahan kecil yang kami berikan adalah bagian dari upaya memberikan pengalaman yang aman dan nyaman bagi pelanggan," kata dia.
Sosok Penting di Balik Kelancaran Pengisian BBM di SPBU
Kepala Bidang SPBU Hiswana Migas DPD II Sumatera Bagian Selatan, Arman WP mengatakan, marshal merupakan petugas yang perannya membantu kelancaran arus lalu lintas dan antrean pengendara di sekitar SPBU,
"Memang setiap SPBU memiliki marshal untuk mengatur lalu lintas di sekitar SPBU. Marshal ini berasal dari petugas keamanan di SPBU itu sendiri atau petugas SPBU yang ditunjuk oleh masing-masing SPBU menyesuaikan kebutuhan di sana," kata dia.
Secara umum, peran marshal sangat penting dalam mengatur antrean kendaraan yang hendak melakukan pengisian bahan bakar agar tetap rapi dan teratur. Mereka adalah salah satu bagian penting di balik kelancaran pengisian BBM di SPBU.
"Jadi memang mereka inilah yang bertanggungjawab memastikan antrean kendaraan di sekitar SPBU tidak mengganggu lalu lintas kendaraan lain. Agar jalan-jalan yang berada di sekitar SPBU tidak macet," kata dia.
Arman menyebut, marshal juga membantu konsumen dalam memberikan arahan terkait dengan dispenser atau antrean mana yang jalurnya bisa dipakai bagi pengendara.
"Bisa saja ada pengendara yang baru mengisi SPBU di sana, jadi masih bingung jalur dispenser mana yang diambil, sehingga marshal bisa mengarahkannya," ucap Arman.
Meski antrean padat, kata dia, secara keseluruhan masyarakat di Palembang sudah tertib. Termasuk sopir yang antre isi Biosolar, mereka sudah memahami dan mengerti harus antre dan sabar meski sudah berjam-jam menunggu.
"Kalau di Palembang ini kan, kita diatur pemda terkait operasional SPBU yang melayani Biosolar di tengah atau di pinggir kota. Karenanya, sopir truk yang hendak mengisi Biosolar, sudah sebagian besar memahami dan mengerti. Jadi tidak terjadi kericuhan saat pengisian. Namun tidak menutup kemungkinan ada gejolak di lapangan, di sana peran marshal, untuk mencegah adanya kericuhan tersebut," kata dia.
"Karena itu, selain memang harus tegas, marshal juga dituntut untuk mengedepankan 3S. Ini yang dapat meredam jika terjadi emosi saat antrean berlangsung. Keberadaan marshal juga bisa menekan timbulnya gejolak seperti itu," kata dia.
Marshal di SPBU Coco Pertamina Plaju Palembang saat bertugas mengatur antrean kendaraan konsumen. Foto: Dwi Apriani |
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi menjelaskan kenyamanan pelanggan saat mendapatkan BBM di SPBU menjadi bagian penting bagi Pertamina. Setiap SPBU diwajibkan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, bukan hanya pelayanan prima saat mengisi BBM namun juga kenyamanan saat mengantre atau menunggu giliran pengisian BBM.
"Marshal ini adalah wajah atau garda terdepan yang membantu kelancaran antrean pengisian BBM di SPBU, agar semua pelanggan bisa mendapatkan kenyamanan dan keadilan saat mengisi BBM di kendaraannya," kata dia.
Dia menyebut marshal bertanggungjawab memandu arus kendaraan supaya proses transaksi BBM berjalan teratur, selamat dan terhindar dari kesemrawutan.
"Keberadaan marshal sangat vital guna menghindari keriuhan di lingkungan SPBU Pertamina selama operasional pelayanan. Selain itu, kedisiplinan marshal menjamin seluruh pengendara mendapatkan pelayanan tanpa hambatan," jelas Rusminto.
Rusminto memaparkan marshal Pertamina adalah petugas yang membantu mengatur lalu lintas kendaraan di area SPBU agar proses pengisian BBM berjalan. Marshal juga menjaga kondusivitas di area SPBU, mengarahkan pelanggan ke dispenser atau jalur yang tersedia sehingga waktu tunggu dapat lebih efisien.
"Marshal juga menjaga keselamatan di area SPBU, membantu memastikan kendaraan berhenti pada posisi yag tepat dan mengingatkan pelanggan mematuhi aturan keselamatan selama pengisian BBM," kata dia.
Selain itu, marshal juga memberikan informasi dan arahan, membantu pelanggan apabila membutuhkan informasi terkait alur pelayanan di SPBU.
"Meski adalah sosok yang harus bertahan di bawah sengatan matahari dan kepulan asap setiap hari, namun kerja keras marshal ini adalah kunci utama di balik kelancaran di SPBU," tegasnya.
Pemda Minta Antrean di SPBU Teratur
Antrean panjang yang kerap terjadi di hampir semua SPBU penyedia BBM subsidi menjadi atensi bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Gubernur Sumsel Herman Deru sudah beberapa kali meninjau operasional SPBU yang ada di wilayahnya.
Karena itu, Herman Deru mengeluarkan kebijakan jadwal operasional SPBU untuk menekan kemacetan di sekitar SPBU. Ada 13 SPBU penyedia Biosolar di wilayah Palembang yang beroperasi selama 24 jam, sementara ada 8 SPBU yang melayani penjualan Biosolar dengan waktu terbatas.
Selain itu, batasan jumlah pengisian juga diterapkan. Adapun kendaraan kecil maksimal 50 liter, kendaraan sedang maksimal 80 liter, dan kendaraan besar atau truk maksimal 150 liter. Hal ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok Biosolar sekaligus memastikan distribusinya lebih merata kepada kendaraan yang berhak menerima.
"Kita sudah turun bersama pihak terkait. Pasokan BBM di Sumsel juga sudah ditambah. Jam operasional SPBU juga sudah diterapkan. Nantinya, akan terus kita evaluasi rantai pelayanan, mulai dari kecepatan pengisian BBM, sistem pembayaran, hingga kesiapan operasional SPBU," kata dia.
Herman Deru juga mengungkapkan, pengaturan jam operasional bukan semata-mata menyelesaikan persoalan. Namun ia juga meminta kepada Pertamina untuk memaksimalkan peran marshal atau pengatur antrean kendaraan.
"Kita minta agar petugas pengatur antrean (marshal) bisa lebih dimaksimalkan di setiap SPBU. Inilah yang menjadi bagian penting dalam mengatur antrean dan memastikan bahwa antrean kendaraan tidak mengganggu pengguna jalan. Juga memastikan keamanan saat terjadinya antrean panjang di SPBU," pungkasnya.
Simak Video "Membina Desa Kuta, Membangun Ekonomi Mandiri yang Berkelanjutan"
Profil Harry Trofi Ehin Profil Dan Biodata Meneruskan Place Footbal(dai/csb)





























































