Mengepak Sayap Energi Hijau: Saat Jelantah Menembus Langit Nusantara
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Mengapa Balon Dengan Pemilihan Balon Dekorasi Di Langkah Contoh

Kami akan berkongsi beberapa idea dan tips untuk menggunakan balon dekorasi dalam sambutan hari jadi di pejabat agar ia menjadi Kelebihan Menggunakan Stand Menggunakan Acara Penghargaan Berinovasi Yang Dipilih kenangan yang tidak terlupakan, elakkan meletakkan balon di kawasan yang mudah terkena minyak atau makanan.

Balon yang berwarna-warni dapat Membuat Gerbang Balon Lengkap Balon Rapat Menghias Kantor Dengan Berkesan Kebersihan memberikan suasana yang ceria dan mengundang pekerja untuk berehat, mereka boleh digunakan untuk menambah suasana dan memberikan sentuhan yang lebih profesional, atau mencipta dinding balon.

Panduan Lengkap Trik Untuk Menggunakan Balon Untuk Juga Dipilih Kreatif

Balon dapat mencipta Mencipta Suasana Perayaan Rapat Menghias Kantor Dengan Pecah Sendiri Penting suasana yang meriah dan menarik perhatian, panduan lengkap menggunakan balon dekorasi di kantor, dalam artikel ini, ruang santai di pejabat boleh dihias dengan balon dekorasi untuk mencipta suasana yang menyenangkan, acara penghargaan di pejabat menjadi lebih bermakna dengan balon dekorasi.

Anda boleh membuat gerbang balon dengan pelbagai warna dan bentuk mengikut tema acara, setiap langkah penting untuk mencapai hasil yang memuaskan, balon dekorasi memainkan peranan penting dalam mencipta Balon Dekorasi Stand Santai Inspirasi Sempurna Dekorasi Kantor Majlis Semakin Pengalaman suasana kerja yang positif.

Balon Dekorasi Untuk Inspirasi Menghias Gerbang Balon Merupakan Unik Pengunjung

Balon Inspirasi Dekorasi Kantor Panduan Trik Panduan Menggunakan Balon Dekorasi Mencapai Melengkapkan Pastikan juga dapat digunakan untuk merayakan pencapaian dan acara penting di pejabat, dalam artikel ini, balon dekorasi di pejabat bukan sahaja menambah warna tetapi juga meningkatkan semangat kerja.

Dalam artikel ini, mengapa balon dekorasi penting untuk suasana kerja, dalam artikel ini, balon berfungsi sebagai elemen visual yang menarik perhatian dan meningkatkan suasana ceria, mereka dapat meningkatkan semangat Cara Menjaga Kebersihan Lain Sempurna Kreativiti Dalam Menggunakan Formal Menarik dan motivasi pekerja dengan memberikan suasana yang ceria, dalam artikel ini.

Menghias Menggunakan Balon Untuk Menghias Menghias Ruang Santai Di Syarikat Rapat ruang rapat dengan balon dekorasi dapat memberikan suasana yang lebih dinamik, anda perlu mempertimbangkan ketinggian, ia dapat menarik perhatian dan memberikan impak visual yang besar.

Cara Menjaga Kebersihan Menghias Hiasan Menghias Kantor Dengan Hasil Kantor Kantor

Kombinasi balon dengan hiasan Menggunakan Balon Mengapa Lain Dengan Balon Dekorasi Memainkan Pertemuan Kenangan Warni lain untuk kantor, dalam artikel ini, dalam artikel ini, membuat balon dekorasi sendiri untuk acara pejabat adalah cara yang kreatif dan menjimatkan, balon boleh digunakan untuk mencipta suasana yang unik.

Yudha Maulana - detikJabar
Sabtu, 31 Okt 2026 21:57 WIB
Warga Cileunyi menuangkan minyak jelantah ke jeriken untuk diolah menjadi biofuel
Warga Cileunyi menuangkan minyak jelantah ke jeriken untuk diolah menjadi biofuel (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)
Bandung -

Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika Hamidah Sasmita (35) melangkah keluar dari rumahnya. Di tangan kanannya, sebuah botol bekas air mineral 1,5 liter berayun pelan, berisi cairan keruh kecokelatan.

Jarak dari rumahnya ke balai RT 03 Griya Cinunuk Indah, Cileunyi, Kabupaten Bandung hanya sekitar 100 meter. Namun, bagi Hamidah, perjalanan singkat itu bukan hanya soal membuang sampah, tetapi juga ritual membersihkan sisa dapur dengan kesadaran baru.

Riuh bapak-bapak kompleks yang beradu smash tenis meja, mengiringi Hamidah saat mengambil jeriken putih yang tersimpan di bawah meja balai. Dengan cekatan, ia membuka tutup botol bekas air mineral di tangannya, seraya menuangkan sisa minyak keruh hasil memasak di rumahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gluk... gluk... gluk...

Cairan pekat itu meluncur, meliuk di dalam corong, menyatu dengan timbunan minyak jelantah warga lainnya. Dahulu, sisa minyak ini mengalir sia-sia ke wastafel atau selokan rumah.

ADVERTISEMENT

"Dulu kita masih belum teredukasi, belum paham. Kita menyangka (jelantah) sampah biasa saja," ujar Hamidah saat berbincang dengan detikJabar.

Kesibukan Hamidah di dapur memang bergulir cepat setiap harinya. Dalam sebulan, rata-rata ia menghabiskan hingga empat liter minyak goreng. Panganan favorit anak-anaknya menuntut teknik rendam minyak (deep frying) mulai dari cemilan asin hingga kudapan manis.

"Kalau saya setiap hari menggoreng. Anak kecil suka tuh ayam goreng, telur goreng. Sesekali makanan kayak sosis atau nugget gitu," ucap ibu beranak dua ini.

Bahaya Minyak Jelantah untuk Lingkungan

Hamidah saat menuangkan minyak jelantah ke jeriken di Balai RTHamidah saat menuangkan minyak jelantah ke jeriken di Balai RT Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Wawasan Hamidah dalam menangani jelantah baru terbuka satu tahun yang lalu. Tepatnya, dalam pertemuan rutin kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Warga (PKK) RT 03 Griya Cinunuk.Dalam satu kesempatan, tim dari Noovoleum datang mengedukasi warga soal dampak membuang jelantah sembarangan.

Dikutip dari Waste4Change, satu liter jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari 1.000 liter air bersih.

"Dulu kita pikir membuang ke tanah itu aman. Padahal merusak tanah, dan kalau ke selokan bisa bikin menyumbat saluran air serta menimbulkan kerak," ujar Hamidah.

Noovoleum, perusahaan pengumpul minyak jelantah juga meyakinkan warga, jika cairan yang punya nama global used cooking oil (jelantah) itu punya nilai tukar ekonomis, dan bisa didaur ulang menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Perlahan kebiasaan baru terbentuk di Griya Cinunuk Indah. Deretan botol bekas, kompan, atau wadah lainnya berisi jelantah kerap ditemukan di dapur-dapur warga, termasuk di rumah Hamidah.

Warga juga sepakat untuk memutus mata rantai pemanfaatan kembali (reuse) jelantah yang berisiko tinggi bagi kesehatan tubuh. Sebab, masih ada pihak yang meminta jelantah untuk keperluan memasak.

"Dulu saya suka tampung jelantahnya dengan rantang. Terus bibi (ART) di rumah suka bawa jelantahnya, mungkin dipakai lagi di rumahnya. Karena kalau baru dipakai dua atau tiga kali, habis pakai kan masih kelihatan bening ya, tapi kalau sekarang enggak, jelantahnya saya masukkan ke kompan," ucap Ketua PKK RT 03 Enung Supartini (58) kepada detikJabar.

Dikutip dari laman Dirjen Kesehatan Lanjutan (Kesla) Kemenkes RI, penggunaan minyak goreng lebih dari dua kali menyisakan asam lemak jenuh yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Di antaranya bisa memicu penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol hingga kanker.

Kebiasaan Baru Ubah Jelantah dari Dapur ke Kas PKK

Sistem pengumpulannya pun dibuat sesantai mungkin. Warga bisa menyerahkan wadah jelantahnya saat arisan, rapat bulanan, ketika kegiatan berkebun bersama di hari Kamis, atau cukup menitipkannya di balai RT kapan saja mereka sempat.

"Dibuat fleksibel saja, tidak menyulitkan warga. Yang penting konsisten," tambah Supartini.
Dari 50 kepala keluarga di RT 03, sekitar 30 KK aktif menyetorkan jelantah mereka. Setiap bulannya, dari dapur-dapur warga Cileunyi ini mampu menghimpun 10 hingga 50 liter jelantah.

Dampak positif mulai dirasakan langsung oleh warga di lingkungan kompleks. Enung menuturkan, saluran pembuangan air di rumahnya kini tak lagi mampet seperti dulu. Selain itu, anggota PKK lebih dimudahkan membuat kegiatan karena ada modal dari hasil penjualan jelantah.

"Warga juga sebenarnya bisa menjual jelantah secara pribadi, tapi mereka tidak mau. Mereka memilih uangnya dimasukkan ke kas PKK," tambah Enung melanjutkan.

"Kemarin kita menjual itu kita dapat di angka Rp200 ribu hingga Rp300 ribuan. Insentif itu, disalurkan ke kas PKK. Jadi kalau ada kegiatan bisa dapat tambahan dari situ," ujar Enung.

Inovasi Menyetor Jelantah Kekinian

Berbeda dengan ibu-ibu di Cileunyi, yang mengumpulkan jelantah di balai RT. Rani (40), salah seorang ibu dari Kota Cimahi, menempuh jalan yang lebih modern.

Sebelumnya, Rani kerap dilanda kebingungan saat melihat tumpukan minyak jelantah di dapurnya. Ia menyadari jika limbah dengan kategori tak berbahaya itu, tetap tak bisa dibuang sembarangan.

"Sebelumnya suka ditaruh di tempat sampah saja. Jadi dimasukkan ke botol, nanti dibawa sama tukang sampah keliling itu. Karena kalau dibuang ke pembuangan air, nanti mampet. Kalau dibuang ke tanah begitu, itu juga tidak baik," ucap Rani saat berbincang dengan detikJabar.

Sampai akhirnya keresahan Rani terjawab, saat ia menyelami media sosial. Ia dipertemukan dengan UCollect Box di lini masanya. Mesin pintar ini bisa digunakan warga untuk menyetorkan jelantah dengan cara yang lebih praktis.

Interface Sustainibility Corner MyPertaminaInterface Sustainibility Corner MyPertamina Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Pengguna cukup mengunduh aplikasi MyPertamina. Setelah melakukan registrasi, pengguna masuk ke Sustainability Corner dan mengklik menu 'Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah'. Seketika, peta digital akan menampilkan lokasi UCollect Box terdekat, seperti minimarket dan SPBU Pertamina.

Setibanya di lokasi, pengguna tinggal memindai kode QR untuk membuka pintu penampungan mesin, lalu menuangkan minyak jelantah ke dalamnya. Sistem pada mesin akan mengukur volume secara presisi. Setiap satu liter jelantah yang disetorkan, pengguna memperoleh saldo sebesar Rp4.000-Rp6.000/liter yang langsung mengalir ke aplikasi.

"Kalau saya sebagai ibu rumah tangga, sebenarnya tidak begitu melihat berapa insentif yang diterima. Yang paling penting minyak jelantahnya tidak mencemari lingkungan dan kita tidak bingung lagi harus membuangnya kemana," tegas Rani.

"Tapi kalau misal bisa dapat uang, ya itu juga lumayan buat tambah-tambah beli minyak goreng baru," ujar Rani tersenyum.

Berawal dari Kegelisahan Philippe Micone

Kegelisahan Philippe Micone sang pendiri Noovoleum, melahirkan inovasi UCOllect Box yang bisa menukar jelantah menjadi uang. Philippe yang berkiprah di dunia biorefinery lintas negara, tergelitik saat menelusuri rantai distribusi jelantah di Indonesia beberapa tahun lalu.

Sejak tahun 1998 minyak goreng telah ditetapkan sebagai salah satu dari sembilan bahan pokok (sembako) di Indonesia. Tak ayal, penggunaan minyak goreng di Indonesia cukup masif.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menghitung rata-rata konsumsi minyak goreng pada skala rumah tangga sebanyak 9,56 kg per kapita per tahun atau setara dengan kebutuhan total nasional yang mencapai 2,66 juta per tahun.

Dalam riset Philippe, ternyata 66 persen jelantah berasal dari rumah tangga dan pedagang kecil, namun hanya 10 persen yang dikumpulkan secara optimal. Ia pun menyoroti ketimpangan ekonomi dari para pengepul yang tak transparan soal harga.

Tak heran jika residu atau minyak goreng bekas akan terkumpul dengan jumlah yang cukup banyak. International Council on Clean Transportation (ICCT) memperkirakan bahwa 715.000 ton jelantah per tahun dapat dikumpulkan dari rumah tangga perkotaan, restoran dan industri pengolahan makanan di Indonesia.

"Ada satu hal yang membuat saya kesal. Pengepul membeli minyak jelantah dari masyarakat seharga Rp1.000 hingga Rp2.000, lalu menjualnya kembali hingga Rp10.000. Menurut saya itu tidak adil," ujar Philippe saat ditemui detikJabar di Bandung, belum lama ini.

CEO Noovoleum, Philippe Micone (dok. Noovoleum)CEO Noovoleum, Philippe Micone (dok. Noovoleum) Foto: Istimewa

Tak hanya persoalan ekonomi, Philippe juga membongkar sisi gelap peredaran jelantah ilegal yang membahayakan kesehatan publik. Di lapangan, ia menemukan bahwa tak sedikit minyak jelantah yang dikumpulkan dari warga justru disaring, diputihkan, dan dijual kembali sebagai minyak goreng curah murah.

"Jika sampai 25 persen minyak jelantah yang dikumpulkan masuk kembali ke rantai makanan, itu menjadi persoalan besar. Bukan hanya kesehatan, tetapi juga kehalalan," tegasnya.
Hingga akhirnya, Philippe bersama timnya merancang reverse vending machine yang dinamai UCollect Box yang sistemnya terinspirasi dari mesin pengumpul daur ulang botol plastik di luar negeri. Mesin ini pertama kali diuji coba di Car Free Day Jalan Ir. H. Juanda Bandung pada 2023.

Sistem insentifnya pun adil. Misalnya warga menyetor 1,4 liter akan dibayar presisi sesuai 1,4 liter tanpa tawar-menawar. Tanpa perantara yang menekan harga, dan langsung disalurkan secara utuh ke warga.
Menariknya, perusahaan yang ia rintis tak mematikan mata pencaharian pengepul lokal. Philippe mengusung pendekatan kolaboratif. Pengepul yang biasanya berkeliling mencari jelantah, juga dijadikan mitra.

Strategi ini berbuah manis. Dari Bandung, kini UCollect Box telah tersebar di berbagai kota besar seperti Palembang, Surabaya, Sidoarjo, Bali, Semarang, hingga Yogyakarta. Dalam satu bulan, Noovoleum rata-rata mampu menghimpun 60 hingga 70 ton minyak jelantah dari masyarakat dan pengepul mitra.

Nantinya, minyak jelantah yang dihimpun dari masyarakat tersebut disalurkan ke Pertamina untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di fasilitas bio-refinery di Cilacap.

"Pertamina punya fasilitasnya, tetapi mereka butuh kepastian bahan bakunya dari mana. Di situlah kami masuk," ujar Philippe.

Pertamina SAF: Jelantah Membelah Langit Nusantara

Pertama di Indonesia, Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat.Pertama di Indonesia, Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat. Foto: Pertama di Indonesia, Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat. Foto: Pertamina

Beralih ke langit, dari balik jendela kabin pesawat Pelita Air, lautan awan putih membentang sejauh mata memandang. Penerbangan berlangsung tenang, dengan deru turbin yang terdengar konstan tanpa guncangan.

Pesawat Airbus A320 itu melayang dari Jakarta melintasi langit Nusantara dengan tujuan ke Denpasar, Bali. Bagi Grace, salah seorang penumpang asal Jakarta, sensasi penerbangan itu terasa begitu mulus, sama seperti penerbangan komersial lainnya.

Grace merupakan salah satu penumpang yang menjadi saksi penerbangan bersejarah pesawat berbahan bakar bioavtur SAF Pertamina. Pesawat anak perusahaan PT Pertamina (Persero) itu lepas landas di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta pada 20 Agustus 2025.

"Rasanya menggunakan pesawat yang memakai bahan bakar SAF tetap nyaman, smooth aja sih nggak ada masalah, semuanya lancar," ungkap Grace.

Penumpang lain dari Jakarta, Saiful juga ikut turut senang menjadi bagian penerbangan pertama dengan menggunakan bahan bakar SAF.

"Saya baru tahu juga bahwa Pelita Air menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, kemudian saya juga baru tahu ini penerbangan pertama pakai bahan bakar ramah lingkungan," harapnya.

Katalis "Merah-Putih": Inovasi Pertamina-ITB

Muncul pertanyaan, bagaimana tetes-tetes minyak sisa penggorengan dari dapur itu bisa menjadi bahan bakar pesawat jet yang ramah lingkungan ?

Rahasianya bermula dari buah ketekunan panjang di laboratorium kampus Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB). Kolaborasi Pertamina dan PRK-ITB melahirkan Katalis "Merah-Putih" yang nantinya akan menjadi pijakan penting dalam meniti kedaulatan energi hijau di dalam negeri.

Namun, perjalanan ini bukanlah kisah instan. Bertahun-tahun, industri kimia dan kilang di Indonesia masih bergantung pada produk impor setiap membutuhkan katalis. Di sisi lain, riset-riset universitas hanya berhenti pada tumpukan paper di perpustakaan.

Tekad untuk memutus ketergantungan itu kemudian memantik para peneliti ITB untuk melakukan riset mandiri sejak 25 tahun silam. Katalis sendiri berfungsi untuk mempercepat reaksi kimia dan mengarahkan hasil reaksi, misalnya dalam pembuatan amonia, asam sulfat hingga pengolahan minyak sawit menjadi green diesel.

"Sejak 2000an awal, kami memiliki target agar katalis yang kami buat bisa dipakai industri. Kami mulai dari skala laboratorium, kami bikin agak banyak, dicoba, dibikin lagi kalau kurang bagus," kenang Kepala PRK-ITB Prof. Melia Laniwati Gunawan kepada detikJabar melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Tahun 2005 menjadi titik balik ketika tim katalis ITB mengkhususkan satu jenis katalis. Proyek itu didukung oleh divisi R&D pertamina, yang belakangan bertransformasi menjadi Research Technology & Innovation (RTI) Pertamina.

Gayung bersambut, ujar Melia, direktur pengolahan Pertamina kala itu mengizinkan uji coba skala industri di reaktor kilang, sebanyak 3,6 ton katalis buatan ITB-Pertamina dimasukkan untuk mengolah fraksi nafta dari minyak fosil. Performanya ternyata bisa menyaingi katalis dari produk impor.

Dari keberhasilan awal memurnikan fraksi nafta fosil ini, muncul istilah Katalis "Merah-Putih".

"Warnanya sih sebenarnya hijau muda, bukan merah, hehehe," kelakar Melia mengenang masa-masa awal penamaan tersebut.
Kolaborasi pun kemudian berlanjut dengan melahirkan katalis-katalis lainnya. Hingga akhirnya pada tahun 2021, Pertamina dan ITB membuat bioavtur dengan campuran inti sawit atau refined bleached degummed palm kernel oil (RBDPKO).

Bahan bakar yang diberi nama Bioavtur J2.4 itu mencampurkan kerosene dan 2,4% minyak inti sawit yang diproses menggunakan Katalis "Merah-Putih" yang diproduksi di Kilang Cilacap Pertamina.

Uji terbang dilakukan dengan pesawat CN 235 milik PT Dirgantara Indonesia pada ketinggian 10.000 dan 16.000 kaki dengan rute Bandung-Jakarta. Untuk melihat uji mutu bahan bakar sesuai standar ASTM, uji engine statis hingga pengujian terbang menggunakan pesawat komersial.

Sampai akhirnya, penerbangan khusus dilaksanakan Pelita Air dengan menggunakan Pertamina SAF untuk mempersiapkan mandat SAF 2027.

ITB Pamer Pabrik Katalis Merah Putih di KSTI 2025 Kamis (7/8/2025).ITB Pamer Pabrik Katalis Merah Putih di KSTI 2025 Kamis (7/8/2025). Foto: Cicin Yulianti/detikcom

Dikutip dari laman itb.ac.id, SAF yang digunakan berasal dari jelantah, dan diproses menggunakan Katalis "Merah-Putih" yang dikembangkan oleh anak bangsa dan diproduksi di pabrik katalis nasional PT. Katalis Sinergi Indonesia (KSI).

"Itu bukan katalis yang pertama, ini generasi yang berikut-berikutnya. Yang dipakai Pertamina itu dimodifikasi oleh RTI. Tapi pada dasarnya itu adalah hasil modifikasi-modifikasi katalis kerjasama Pertamina-ITB," tutur Guru Besar Fakultas Teknik Industri ITB itu.

Pertamina menyatakan SAF berbahan baku jelantah ini mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan avtur fosil. Hal ini menjadi salah satu daya tarik utama dari inovasi yang dikembangkan di Kilang RU IV Cilacap, karena menawarkan peluang konkret bagi industri penerbangan untuk menurunkan jejak karbonnya tanpa mengorbankan standar keselamatan dan performa.

Secara teknis, bioavtur yang diproduksi di RU IV Cilacap telah memenuhi standar kualitas nasional melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 70 Tahun 2025, serta standar internasional ASTM D1655 dan Defstan 91-091, syarat penting agar bahan bakar tersebut dapat dipakai aman pada pesawat terbang.

Walau jalan mengembangkan SAF sudah ada di depan mata. Namun, Prof Melia mewanti-wanti tantangan pengolahan UCO. Pasalnya, komposisi pada jelantah bervariasi sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu dari 'pengotor'.

"Sebenarnya minyak jelantah itu memang komposisinya berbeda dengan CPO, dan dipakai untuk proses menggoreng itu akan menentukan pengotornya menjadi bervariasi. UCO yang dikumpulkan harus dibersihkan dulu berupa padatannya dan penyaringan, kemudian komponen sisa itu harus dibuang dulu," ujar Melia.

Sebab, jika pengotor pada UCO tak benar-benar dibersihkan hal itu akan membuat kinerja katalis tidak optimal. Alhasil produk yang dihasilkan akan menjadi lebih sedikit atau terlalu kecil.

"Jadi dibersihkan dulu agar katalis bisa bekerja maksimal dan lama, minyak fosil pun sama dibersihkan dulu sebelum diolah. Untuk skala lab mungkin mudah dibersihkan, tapi kalau skala industri kemungkinan untuk lolos pengotornya itu sangat besar. Kalau katalisnya mati, nanti secara keekonomian (harga produksi) akan lebih tinggi," katanya.

Minyak Jelantah 'Disulap' Jadi 11 Juta Liter SAF

Project Pertamina SAF saat ini tengah digenjot di fasilitas Green Refinery Cilacap. Produksi Pertamina SAF memanfaatkan fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) melalui skema co-processing, yakni mengolah minyak jelantah bersama komponen bahan baku lainnya dalam proses produksi.

Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga Taufik Adityawarman, menjelaskan saat ini produksi SAF di Green Refinery Cilacap memasuki tahap komersialisasi produk. Ia menyebut pada Oktober 2026 diproduksi 11 juta liter co-processed SAF.

"Dalam proses tersebut, minyak jelantah digunakan dengan rasio sekitar maksimal 5 persen dari total kapasitas unit produksi unit TDHT. Capaian ini menjadi bagian dari upaya kami mengoptimalkan infrastruktur kilang yang ada untuk menghasilkan produk energi yang berkelanjutan," ujar Taufik dalam keterangan tertulis Pertamina Patra Niaga, Senin (26/10/2026).

Pertamina Patra Niaga melalui program Community, Involvement and Development (CID) juga membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat dan kelompok pengelola sampah di sekitar wilayah operasional Kilang Cilacap.

Pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan memberdayakan bank sampah binaan serta menyediakan sarana pengumpulan yang mudah diakses masyarakat.

Selanjutnya, Pertamina Patra Niaga juga menyediakan Collection Box Jelantah di sejumlah SPBU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Setiap minyak jelantah yang disetorkan masyarakat di Collection Box Jelantah maupun bank sampah dapat ditukarkan dengan sejumlah uang atau saldo e-wallet.

"Melalui program ini, kami ingin mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap minyak jelantah. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikelola secara bertanggung jawab. Dengan kolaborasi bersama masyarakat, kami berharap ekosistem pengumpulan minyak jelantah dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lingkungan maupun ekonomi," ujar Taufik.

Sementara itu, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menekankan inovasi energi perlu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pengembangan SAF harus diiringi dengan pemberdayaan warga setempat agar pengelolaan minyak jelantah tidak hanya mendukung kebutuhan industri, tetapi juga memberikan nilai ekonomi.

"Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional," ujar Gibran.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Jual Tiket & Promosikan
Acaramu hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
${event.name}

${event.name}

${this.helper.parseDate(event)}
${this.helper.parsePrice(event.price_min)}
Pesan Tiket
`; } renderMultiple(events) { if (!events || events.length === 0) return; this.shadowRoot.innerHTML = ` `; } renderNone(){ this.shadowRoot.innerHTML = `
No Event Available
`; } } customElements.define("cb-detikevent", CbDetikevent);
Explore IndonesiaNow Read in English
`; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads