Manuver politik yang dilakukan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Amir Mahpud yang mendorong 2 Bupati di Jawa Barat untuk maju di Pilgub Jabar mendatang, menjadi isu politik yang belakangan mengemuka.
Dua Bupati yang didorong Amir Mahpud untuk jadi Gubernur di Pilgub 2029 adalah Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.
Langkah DPD Gerindra Jabar itu memantik rumor keretakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan Partai Gerindra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DPD Gerindra Jabar dituding melakukan upaya 'down grade' sosok KDM yang saat ini tengah memimpin Jawa Barat.
Dikonfirmasi mengenai hal itu, Amir Mahpud membantah. Mendorong dua Bupati kader Gerindra untuk berlaga di Pilgub mendatang bukan untuk menjatuhkan KDM.
"Tidak, bukan mendowngrade incumbent. Kita hanya memunculkan sosok. Melakukan mapping (pemetaan), mendeteksi kader terbaik yang hari ini jadi Bupati dan Wali Kota supaya muncul marwah, spirit Gerindra-nya sehingga dia mau berjuang membesarkan partai Gerindra," kata Amir Mahpud, di Tasikmalaya, Sabtu (31/10/2026).
Mendorong Bupati Sumedang dan Bupati Ciamis untuk maju di Pilgub Jabar, menurut Amir adalah upaya dirinya membesarkan partai.
"Tugas utama Ketua DPD itu berupaya bagaimana suara Gerindra naik. Kita memastikan Jawa Barat sebagai benteng utama suara Pak Presiden aman, untuk kepentingan Pak Prabowo dua periode. Itu pondasinya, jadi itu prinsip utamanya," kata Amir.
Dalam kerangka tujuan itu, maka DPD Gerindra Jabar melakukan deteksi kader-kader potensial yang saat ini ada. Terutama Bupati atau Wali Kota yang sudah 2 periode, sehingga bisa berdampak positif bagi elektoral Gerindra di Pemilu mendatang.
"DPD Gerindra ini berkepentingan untuk mendeteksi kader partai terbaik yang hari ini sedang menjabat pada posisi di eksekutif, incumbent, apalagi dia misalnya yang sedang menuju dua periode. Bagaimana caranya nilai kemanfaatannya secara elektoral ini menunjang niatan yang tadi," kata Amir.
Sejauh ini yang sudah dianggap potensial adalah Bupati Ciamis dan Bupati Sumedang, tapi tidak menutup kemungkinan bisa bertambah.
"Bahkan mungkin tidak dua orang ini, ada beberapa lagi yang dalam posisi seperti itu sebenarnya. Tujuannya bagaimana mereka ketika sudah selesai dua periode itu harus berpikir dan berkontribusi secara nyata membesarkan partai Gerindra, lalu dia harus berjuang naik kelas, naik level. Naik kelasnya apa? Misalkan harus menjadi DPR RI atau kalau ada ruang, ikut kontestasi diatasnya, dia bisa maju," kata Amir.
Dia menambahkan memunculkan sosok potensial untuk Pilgub Jabar mendatang diambil sebagai langkah antisipasi dinamika politik yang mungkin saja terjadi dalam dua atau tiga tahun mendatang.
"Intinya kader Gerindra terbaik itu bukan KDM saja, ada si ini, si itu. Karena kita kan nggak tahu ke depan dengan KDM besok hari, maka Gerindra harus menyiapkan. Tapi bukan pada posisi kita mendown grade incumbent hari ini itu yang harus menjadi catatan," kata Amir.
Soal sosok KDM yang selalu unggul dalam survei Capres 2029, Amir mengatakan hal itu berbeda konteks, atau tidak saling terkait. Hingga saat ini bagi Partai Gerindra, Capres 2029 adalah Prabowo Subianto.
"Internal Gerindra tidak berpikir nama lain, sampai hari ini seluruh kader Gerindra semua pikirannya, di kepalanya hanya nama Pak Prabowo Subianto, Presiden dua periode, tidak ada nama lain," kata Amir.
"Terkait dengan manuver tadi (mendorong Bupati untuk jadi Gubernur) itu beda konteksnya. Kita berpikir sebagai kader partai Pak KDM mampu berbuat baik untuk Jabar sehingga beliau menjadi Gubernur dua periode kalau dianggap berprestasi oleh masyarakat. Walau pun yang menentukan calon Gubernur itu keputusan partai. Dan ini belum terjadi. Inilah namanya dinamika," kata Amir.























































