Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI tengah mendalami informasi mengenai warga negara Indonesia (WNI) bernama Muhammad Taufiq (48) yang dilaporkan tewas setelah bergabung dengan militer Rusia dan bertempur di Ukraina.
Juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, mengatakan pemerintah Indonesia telah mengambil langkah diplomatik kepada Rusia terkait informasi tersebut.
"Kementerian Luar Negeri RI mencermati informasi yang beredar tentang seorang WNI yang disebut meninggal dalam dinas militer di Rusia. KBRI Moskow tengah melakukan pendalaman dan verifikasi, termasuk terkait identitas dan status yang bersangkutan," kata Yvonne dilansir detikNews, Jumat (30/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yvonne, proses verifikasi dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip perlindungan data pribadi. Ia juga mengimbau semua pihak untuk tidak membuat spekulasi sebelum informasi mengenai kasus tersebut terkonfirmasi.
Kemlu Minta WNI Tak Direkrut Militer Rusia
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah meminta Rusia mengecualikan WNI dari segala bentuk perekrutan untuk kepentingan militer. Kemlu juga tengah menelusuri dugaan adanya modus perekrutan yang mengarah pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
"Pemerintah RI telah menyampaikan permintaan resmi melalui jalur diplomatik kepada pemerintah Rusia agar mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan WNI tidak direkrut ke dalam militer maupun formasi lainnya terkait militer di Rusia melalui jalur apa pun, termasuk praktik yang terindikasi tindak pidana perdagangan orang (TPPO)," ujar Yvonne.
"Pemerintah RI juga telah meminta agar Indonesia dimasukkan ke dalam daftar negara yang warga negaranya dikecualikan dari perekrutan militer Rusia melalui jalur apapun, dengan penerapan secara efektif dan segera," tambahnya.
Kemlu terus berkoordinasi dengan KBRI Moskow dan sejumlah pihak terkait untuk mengungkap kemungkinan adanya penipuan maupun eksploitasi dalam proses perekrutan tersebut.
Pemerintah juga memastikan upaya penanganan serta perlindungan terhadap WNI dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
"Pemerintah RI mengimbau masyarakat agar senantiasa memverifikasi keabsahan tawaran pekerjaan di luar negeri melalui instansi berwenang, mewaspadai tawaran pekerjaan dengan imbalan tidak wajar, tidak menandatangani kontrak yang tidak dipahami, serta memperhatikan risiko keselamatan dan konsekuensi hukum keterlibatan dalam dinas militer asing," imbuhnya.
Kronologi Taufiq Bergabung dengan Militer Rusia
Berdasarkan laporan di situs Kementerian Pertahanan Ukraina yang dilihat pada Jumat (30/10), Direktorat Utama Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR) menyebut Taufiq merupakan warga yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur.
Sebelum bergabung dengan militer Rusia, Taufiq diketahui pernah bekerja sebagai pengemudi taksi di Jakarta serta menjadi manajer di sebuah perusahaan pertanian. Ia juga pernah bekerja di Amerika Serikat dan diketahui mampu berbahasa Inggris.
Menurut laporan tersebut, perekrut Rusia menghubungi Taufiq setelah memperoleh curriculum vitae (CV) yang dikirimkannya ketika sedang mencari pekerjaan.
Penyelidik menduga Taufiq tertarik dengan tawaran tersebut karena dijanjikan penghasilan yang relatif mudah diperoleh. Namun, laporan itu menyebut Taufiq pada akhirnya menjadi salah satu korban skema perekrutan warga asing oleh Rusia untuk terlibat dalam perang di Ukraina.
Pada 19 April 2026, Taufiq menandatangani kontrak militer selama satu tahun di Korolyov, kota yang berada di dekat Moskow.
Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut kontrak dinas selama satu tahun merupakan durasi yang umum diberikan kepada warga negara asing yang direkrut Rusia untuk ikut berperang melawan Ukraina. Mereka disebut kemudian dimanfaatkan sebagai pasukan infanteri yang dianggap sebagai pasukan 'sekali pakai'.
Taufiq selanjutnya ditugaskan sebagai penembak senapan mesin dan dikirim ke fasilitas pelatihan militer di dekat Voronezh. Ia hanya menjalani pelatihan sekitar 1,5 minggu sebelum dikirim ke medan perang.
Pada awal Mei 2026, Taufiq dipindahkan ke wilayah Ukraina yang berada di bawah pendudukan Rusia.
Ia dilaporkan tewas dalam pertempuran pertamanya ketika pasukan Rusia berupaya bergerak dari Zelena Dolyna menuju Novoselivka dan Drobysheve di wilayah Donetsk.



























































