Kementerian Pertanian menyiapkan dua skema untuk memenuhi kebutuhan bawang putih dalam negeri. Saat ini bawang putih di Indonesia mayoritas impor hingga 95%.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet mengatakan peningkatan itu bisa dilakukan melalui penguatan pendampingan budi daya dan riset terapan. Langkah ini diarahkan untuk memastikan program berjalan di lokasi yang tepat, didukung teknologi siap pakai, serta mampu meningkatkan keterampilan petani dan produktivitas secara berkelanjutan.
"Yang kita butuhkan adalah inovasi yang betul-betul siap diterapkan, bukan yang masih sebatas potensi. Karena skalanya besar, kita harus memastikan teknologi dan rencana yang dipilih benar-benar bisa mendukung pencapaian target," ujar Alim, Sabtu (31/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alim menjelaskan, skema peningkatan produksi akan dijalankan melalui dua jalur yang saling melengkapi. Pertama berfokus pada percepatan budi daya melalui penetapan lokasi, penyusunan kalender tanam, pemetaan kebutuhan petani, serta pendampingan teknis. Kedua, diarahkan pada riset dan kajian untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, efisiensi penggunaan input, dan daya saing bawang putih.
Pada skema pertama, Alim meminta lokasi pengembangan dan jadwal tanam dirinci agar dukungan pemerintah dapat diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan bawang putih tidak hanya ditentukan oleh penetapan lahan, tetapi juga kesiapan petani dalam menerapkan teknik budi daya. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani perlu menjadi bagian utama dari program.
"Ini betul-betul mulai baru, sehingga kita membutuhkan keterampilan baru dari petani. Pendampingan budidaya, peningkatan literasi, dan penguasaan teknologi tepat guna menjadi sangat penting," terangnya.
Sementara skema kedua akan memperkuat riset dan kajian untuk menjawab tantangan produksi bawang putih dalam jangka pendek maupun panjang. Area yang perlu dikaji meliputi pengembangan varietas unggul, perbaikan teknologi budidaya, peningkatan mutu hasil, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, serta efisiensi penggunaan sarana produksi.
Alim menambahkan riset juga perlu mencakup penanganan pascapanen, termasuk upaya mengurangi kehilangan hasil selama penyimpanan dan distribusi. Aspek pengemasan dan transportasi turut menjadi perhatian agar bawang putih dapat dipasarkan dengan mutu yang terjaga.



























































