Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, menyerukan agar dunia tidak membawa konflik dan peperangan ke Asia. Ia justru mengajak negara-negara di dunia menyebarkan nilai-nilai perdamaian yang tumbuh dari tradisi dan ajaran agama di kawasan tersebut.
Seruan itu disampaikan Kiai Marsudi saat menghadiri forum internasional yang digelar Komunitas Sant'Egidio di Colle del Paradiso, Sala Stampa, Assisi, Italia, pada 25-27 Oktober 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam forum bertajuk Asia: Religions Seeking Peace in a World at War (Asia: Agama-Agama Mencari Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang), Kiai Marsudi tampil sebagai salah satu pembicara utama.
Ia mengingatkan bahwa setiap agama memiliki ajaran yang mendorong terciptanya kehidupan damai. Dalam Islam terdapat prinsip salam, Hindu mengenal Vasudhaiva Kutumbakam, Buddha mengajarkan Ahimsa, Konfusianisme menekankan keharmonisan, sedangkan Kristen mengajarkan kasih sayang.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi landasan bagi para pemimpin agama untuk terus mendorong dialog, diplomasi, dan negosiasi guna mengakhiri peperangan.
"Hari ini, kita hidup di dunia yang tengah berperang. Pertanyaannya di manakah agama? Apakah agama bagian dari perang, atau bagian dari perdamaian?" ungkapnya di hadapan para pemuka agama dan akademisi dunia seperti dikutip dari laman MUI, Jumat (30/10/2026).
Singgung Konflik Gaza hingga Ukraina
Dalam pemaparannya yang berjudul Agama-Agama di Asia: Pencarian Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang (Sebuah Perspektif Islam), Kiai Marsudi menyoroti berbagai konflik bersenjata yang masih berlangsung di sejumlah kawasan.
Ia menyebut konflik di Gaza, Myanmar, Ukraina, serta kawasan Timur Tengah seperti Iran, Palestina, dan Yaman sebagai gambaran dunia yang masih diwarnai peperangan.
Kiai Marsudi menegaskan Asia memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan perdamaian. Sebab, kawasan ini merupakan tempat lahirnya berbagai agama dan tradisi keagamaan besar dunia, mulai dari Hindu di India, Buddha di Nepal, Konfusianisme di China, hingga agama-agama samawi di Asia Barat.
Menurutnya, jika berbagai agama lahir di Asia, semangat perdamaian juga semestinya tumbuh dan disebarkan dari kawasan tersebut.
Ia menyampaikan pandangannya melalui empat pendekatan, yakni dalil Al-Qur'an dan hadis, keteladanan sejarah Nabi Muhammad SAW, pandangan para ulama, serta prinsip-prinsip fikih.
Salah satu hal yang disoroti Kiai Marsudi adalah Piagam Madinah atau Sahifah Al-Madinah. Dokumen yang dicetuskan pada 622 Masehi itu dinilai menjadi contoh kepemimpinan masyarakat majemuk yang mampu merangkul berbagai kelompok agama dan kepercayaan.
Melalui Piagam Madinah, Nabi Muhammad SAW membangun kesepakatan hidup bersama yang melibatkan umat Islam, Yahudi, Kristen, Majusi, dan kelompok pagan Arab. Kesepakatan tersebut mengatur kehidupan bersama dalam ikatan perdamaian dan kebebasan beragama.
"Jika Madinah bisa hidup damai dengan berbagai agama 1.400 tahun yang lalu, mengapa Gaza, Ukraina, Iran, Yaman, Palestina, dan tempat-tempat lainnya tidak bisa hidup damai hari ini?" kata dia menegaskan.
Forum Ini Dihadiri Tokoh Lintas Agama Dunia
Forum tersebut merupakan bagian dari pertemuan internasional bertajuk International Meeting for Peace Assisi 2026 dengan tema Unarmed and Disarming Peace atau perdamaian tanpa senjata dan melucuti senjata.
Berdasarkan dokumen resmi program acara, sesi Forum 21 dipimpin oleh sejarawan Italia dari Komunitas Sant'Egidio, Agostino Giovagnoli.
Sejumlah tokoh internasional turut hadir dalam forum tersebut. Di antaranya perwakilan Komunitas Sant'Egidio Belgia Hilde Kieboom, Presiden Dewan Regional Umbria Italia Stefania Proietti, serta orientalis dan ilmuwan politik Prancis Olivier Roy.
Hadir pula aktivis Inisiatif Strategis untuk Perempuan Tanduk Afrika Hala Al-Karib, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Presiden Konferensi Episkopal Italia Matteo Zuppi, Rabi Agung Prancis Haim Korsia, dan Imam Besar Buddhisme Jepang Gijun Sugitani.




































































