Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-Ketapang) Nusa Tenggara Barat (NTB) meluruskan kabar mengenai ratusan hektare lahan pertanian yang disebut gagal panen total atau puso akibat fenomena El Nino. Berdasarkan laporan resmi yang diterima, luas lahan yang mengalami puso di NTB sejauh ini tercatat 2,5 hektare.
Kepala Distan-Ketapang NTB Lalu Mirza Amir Hamzah mengatakan lahan yang dilaporkan mengalami puso berada di Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang puso itu di Praya Barat Daya, di Pelambek tanaman padi 0,5 hektare, Ranggagata 1 hektare, dan di Ungga 1 hektare. Itu berdasarkan laporan yang masuk, jadi totalnya 2,5 hektare," ujar Mirza saat ditemui wartawan di area Kantor Gubernur NTB, Rabu (28/10/2026).
Mirza meminta masyarakat membedakan lahan yang terdampak kekeringan dengan lahan yang benar-benar mengalami puso. Menurutnya, tanaman yang terdampak kekeringan belum tentu gagal panen karena masih berpeluang diselamatkan melalui penanganan teknis.
"Jadi, yang gagal panen yang dibilang ratusan hektare itu tidak ada. Itu terdampak namanya, dan terdampak itu belum berarti gagal, masih bisa diselamatkan," tegasnya.
Meski demikian, Mirza tidak menampik adanya kekeringan yang berdampak pada sejumlah areal persawahan di NTB. Namun, ia menegaskan lahan terdampak tidak bisa langsung dikategorikan sebagai lahan puso.
"Yang gagal panen pasti ada, tetapi jumlahnya kecil. Terdampak itu belum gagal, masih bisa diselamatkan," imbuhnya.
Target Produksi Padi NTB 1,7 Juta Ton
Di tengah ancaman kekeringan akibat El Nino, Distan-Ketapang NTB tetap berupaya menjaga produksi padi daerah. NTB menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 1,7 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah sekaligus mendukung pasokan nasional.
Mirza menyampaikan, penanganan intensif terhadap lahan terdampak menjadi fokus utama saat ini demi menekan potensi kehilangan hasil panen. "Kami sedang mengupayakan angka itu," kata Mirza.
Sebagai langkah mitigasi kekeringan ke depan, Pemprov NTB terus melakukan sosialisasi kepada para kelompok tani serta Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) agar menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan pasokan air. Petani diimbau untuk tidak memaksakan menanam komoditas yang membutuhkan pasokan air tinggi di tengah musim kemarau.
"Kami dorong petani untuk tidak menanam komoditas yang banyak membutuhkan air, tetapi beradaptasi dengan komoditas yang tahan terhadap kekeringan, termasuk sejumlah tanaman hortikultura," pungkasnya.

















































