Sebanyak 30 kepala keluarga (KK) warga Arya Madura Banjarangkan berjalan kaki di tengah malam hingga Minggu (26/9/2026) dini hari menuju kawasan pantai untuk melaksanakan tradisi sakral Ngaro di Pura Kawitan Dadia Arya Dalem Madura, Dusun Selat, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali. Ritual kuno yang digelar pada malam Purnama Kapat ini sarat akan nuansa mistis dan sejarah panjang hubungan erat antara Bali dan Madura.
Kelihan Pura Kawitan Dalem Madura Banjarangkan, I Wayan Juliawan, mengungkapkan bahwa warga keturunan Madura di Banjarangkan konsisten menjaga tradisi ini di samping warga Madura di Intaran, Sanur. Rangkaian upacara dimulai dari pembuatan banten sejak pukul 18.00 Wita hingga tengah malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tradisi Ngaro merupakan warisan leluhur asal tanah Madura yang dilestarikan secara turun-temurun oleh keturunan Raja Madura di Banjarangkan. Berdasarkan catatan sejarah, ritual ini berakar dari upacara penebusan dosa leluhur yang dilakukan oleh penguasa Madura, Adipati Arya Kuda Pinolih," terang Juliawan pada detikBali, Minggu (27/9/2026).
Lebih jauh, Juliawan menerangkan, upacara besar tersebut dulunya turut mengundang sejumlah raja di bawah naungan Kerajaan Majapahit, termasuk Raja Bali saat itu, Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan, yang hadir sebagai saksi.
Hubungan erat antara Bali dan Madura kemudian berlanjut saat perjalanan pulang Raja Bali bersama Arya Kuda Pinolih. Di tengah perairan laut Bali selatan, keris milik Sang Raja terjatuh ke laut. Arya Kuda Pinolih dengan sigap menceburkan diri untuk mencari benda pusaka tersebut.
"Berkat bantuan seekor ikan barakuda (ikan kucul), keris itu berhasil ditemukan di perairan sekitar Pantai Karang Intaran, Sanur. Peristiwa heroik inilah yang menjadi tonggak sejarah dimulainya tradisi Ngaro," papar Juliawan.
Dalam prosesinya, warga khidmat mengarak seluruh tapakan atau pratima dari pura dengan berjalan kaki menuju kawasan pantai.
Mengingat adanya abrasi di Pantai Tegal Besar, puncak persembahan sesajen dan banten tahun ini digeser ke Pantai Siut, Kabupaten Gianyar, tepat pukul 00.00 Wita yang dipuput oleh Jero Mangku setempat.
"Saat melaksanakan upacara, kami minim menggunakan gamelan maupun sinar lampu sebagai penerang. Setelah upacara selesai, persembahan berupa tumpeng dan banten lainnya akan dibagikan kepada warga Arya Madura maupun pemedek umum yang hadir," ungkap Juliawan.
Secara filosofis, pelaksanaan tradisi Ngaro memiliki makna mendalam, yakni memohon keselamatan dan kerahayuan jagat bagi warga Arya Madura serta masyarakat luas, menjadi wujud rasa syukur atas berkah yang diberikan.
"Serta sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada para leluhur cikal bakal warga Arya Madura di Pulau Bali," pungkasnya.

















































