Seorang cendekiawan pernah bertemu dengan seorang penggembala domba di padang rumput. Dari penampilannya, tak ada yang istimewa dari lelaki itu. Ia bahkan tidak bisa membaca dan menulis. Namun, jawaban yang keluar dari mulutnya membuat sang cendekiawan tertegun.
Dikisahkan dalam kitab Qashash wa Ma'ani karya Ala' Sadiq, pertemuan itu bermula ketika seorang cendekiawan menghampiri lelaki yang tengah sibuk menggembala domba-dombanya.
Keduanya kemudian berbincang. Dalam percakapan tersebut, sang cendekiawan mengetahui bahwa penggembala itu buta huruf.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengapa engkau tidak belajar?" tanya sang cendekiawan.
Penggembala itu menjawab dengan tenang bahwa dirinya telah memperoleh sari dari segala ilmu sehingga tidak merasa perlu belajar lagi.
Jawaban tersebut membuat sang cendekiawan penasaran. Ia pun meminta penggembala itu menjelaskan ilmu yang dimaksud.
Penggembala itu kemudian menjelaskan lima pelajaran yang menjadi pegangan hidupnya.
"Pertama, selama masih ada peluang untuk bersikap jujur, aku tidak akan pernah berbohong," jawabnya.
Kedua, selama masih ada makanan halal, ia tidak akan memakan makanan haram. Baginya, mencari sesuatu yang halal harus didahulukan daripada mengambil sesuatu yang dilarang.
Ketiga, selama masih memiliki kekurangan, ia tidak akan sibuk mencari kesalahan orang lain. Ia memilih melihat kekurangan dirinya sendiri daripada menyalahkan keburukan sesama.
Keempat, selama rezeki Allah SWT masih tersedia di bumi, ia tidak akan meminta-minta kepada orang lain.
Terakhir, ia tidak akan pernah melupakan tipu daya setan sebelum menginjakkan kaki di surga. Ia menyadari bahwa godaan setan harus selalu diwaspadai selama perjalanan hidupnya.
Sang cendekiawan pun takjub mendengar jawaban penggembala itu. Ia tak menyangka lelaki yang tidak bisa membaca dan menulis memiliki pegangan hidup yang begitu kuat.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, sang cendekiawan mengakui bahwa kelima pelajaran itu telah merangkum inti ilmu yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan.
Menurutnya, siapa pun yang memahami dan menjalankan kelima prinsip tersebut telah mencapai tujuan dari ilmu-ilmu Islam, bahkan tanpa harus bergantung pada buku-buku ilmu dan filsafat.
Pertemuan itu pun memperlihatkan bahwa ilmu tidak selalu diukur dari seberapa banyak buku yang dibaca atau tingginya pendidikan seseorang.
Wallahu a'lam.
(inf/kri)




































































