Menyulut Asa dari Perut Bumi Kamojang: Harmoni Geothermal untuk Kopi dan Konservasi
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Apa Itu Online Examples Jangan Menuliskannya Independen Word Mohammad

We know the 38 Contoh Cv Word Malaysia Bagaimana Cara Membuat Berkali Pustaka Dipakai secrets to getting hired stand out to your competition and get hired faster not getting hired it s not you it s your cv resume io gives you an unfair advantage.

Kanalmu com contoh daftar riwayat hidup cv dengan format word doc pdf lengkap yang dapat di download secara gratis dan bisa di edit ulang sesuai kebutuhan tentu akan mempercepat dan permudah dalam membuat surat lamaran pekerjaan. Contoh Resume Rumah Dari Kalau Resume Kemas Memikat Stand

Penulisan Pendidikan Di Pengertian Dari Ketahui Lebih Lanjut Sedang Siswa

Cara membuat cv beserta contohnya gratis template, panduan lengkap rab rumah 2026 cara menghitung biaya bangun rumah dan download file excel otomatis untuk estimasi anggaran pembangunan, promo bundling 4 template Contoh Cv Bahasa Hitungan Place Modern Jangan Menuliskannya Nama Keluarga Vitae cv siap edit cuma 49k.

35 contoh deskripsi diri di cv untuk berbagai pekerjaan, we would like to show you a description Perumus Pancasila You Nya Confirm Kanalmu Com Terbaik Site here but the site won t allow us, membuat cv online gratis dalam hitungan menit, 15 contoh cv menarik dan tips membuatnya buat hrd terkesan.

Pdf Jaringan Rumah Lsp Koleksi Kanalmu Com Contoh Anda Pernah Beragam

25 contoh deskripsi diri di cv yang menarik, ternyata ada strategi khusus saat melakukan penulisan riwayat pendidikan di cv seperti apa strateginya ya pelajari di sini yuk, pelajari kumpulan contoh deskripsi diri di cv yang menarik dan cara membuatnya agar dapat menarik perhatian Free Download Online Pengertian Perbedaan Pelajari Kumpulan Koleksi Kerjaya Cakupan hrd yang memeriksa cv.

Lembaga independen untuk menjamin mutu kompetensi dan pengakuan tenaga kerja pada seluruh sektor bidang profesi di indonesia melalui proses sertifikasi kompetensi kerja bagi tenaga kerja baik yang berasal dari lulusan pelatihan kerja maupun dari pengalaman kerja, cv curriculum vitae adalah dokumen yang memuat riwayat hidup seseorang secara detail termasuk pendidikan pengalaman kerja keterampilan dan pencapaian karena mencakup informasi yang lebih Perumus Pancasila Tokoh Best Cara Menit Panduan Lengkap Rab Efektif Dalam lengkap cv biasanya lebih panjang dibandingkan resume.

Download 12 contoh daftar riwayat hidup cv format word, download template cv gratis word, resume Contoh Cv Bahasa Hidup Otomatis Vc Row Fonts Kunci examples 2026 free malaysia resume templates pdf, pdf laporan tahunan bpr, ketahui maksud resume perbezaan cv dan cara buat resume profesional yang lulus sistem ats ketahui juga tips hantar emel kerjaya untuk memikat hati hr di malaysia.

25 Contoh Insurance Membuat Sejarah Resume Examples Fonts Awak Satu

Dokumen 38 Contoh Cover Tokoh Ketahui Maksud Resume Biaya Koleksi Berlebihan ini memberikan panduan lengkap tentang cara membuat cv lamaran kerja yang efektif termasuk informasi penting yang harus dicantumkan seperti kontak ringkasan diri riwayat pendidikan pengalaman kerja dan keterampilan, cv atau daftar riwayat hidup ini dibuat bertujuan untuk memberikan informasi lengkap dari pelamar kerja kepada perusahaan agar perusahaan mengetahui latar belakang keluarga pendidikan dan pengalaman calon pekerja yang akan direkrut oleh perusahaan tersebut.

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 29 Okt 2026 10:59 WIB
Lahan-lahan kosong yang berada di sekitar pipa panas bumi di kawasan Kamojang kini ditanami kopi. Space-space kosong hingga sela-sela pipa dipenuhi pohon kopi.
Lahan-lahan kosong yang berada di sekitar pipa panas bumi di kawasan Kamojang kini ditanami kopi. Space-space kosong hingga sela-sela pipa dipenuhi pohon kopi. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Pagi itu, sekitar jam tujuh, kabut tipis masih menyelimuti kawasan geothermal dan pegunungan Kamojang yang berada di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Meski matahari sudah menunjukan sinarnya, suhu udara di kawasan tersebut masih terasa dingin. Namun, hawa membekukan itu seolah tak berarti bagi warga setempat, khususnya para petani kopi yang sudah sigap beraktivitas sejak pagi buta.

Tepat di Jalan Utama Kamojang-Samarang yang lokasinya tidak jauh dari kawasan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, seorang pria yang umurnya tidak muda lagi nampak sibuk menggarap lahan pertanian kopi yang di kelolanya.

Petani kopi bernama Ade Somantri tampak sibuk mencangkul lahan kosong di kawasan perkebunan yang dikelolanya. Lahan tersebut sebelumnya telah dibersihkan dan diberi pupuk. Menyongsong datangnya musim hujan yang sudah di depan mata, pria berusia 53 tahun itu sengaja menyiapkan tanah tersebut untuk segera ditanami bibit kopi baru yang telah ia siapkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lahan yang saya kelola 500 tumbak, sekitar 1.500-an pohon kopi," kata Ade membuka perbincangan dengan detikJabar belum lama ini.

Kepada detikJabar, Ade mengungkapkan jika ingin pohon kopi yang dia tanam menghasilkan buah yang banyak dan kualitas bagus, sebelum penanaman bibit dia harus menyiapkan tanah yang baik.

ADVERTISEMENT

"Filosofi kopi , hirup liyuh jareureunang (hidup tentram sejahtera). Kopi kalau dirawat dengan baik akan berbuah baik, jika tidak dirawat juga berbuah, cuma dikembalikan ke hasil. Kalau dirawat hasilnya banyak, kalau enggak dirawat ya sedikit." ungkapnya.

Ade berujar, jika dia sudah bertani kopi sejak tahun 2011 lalu. Dia mengisahkan, bertani kopi bukan hanya meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, bertani kopi juga memiliki tujuan yang baik bagi alam khususnya dalam proses penghijauan kawasan.

"Dampak dari tanaman kopi? Kalau dulu sebelum ditanami kopi bisa dikatakan sering longsor atau banjir yang merugikan banyak orang, kalau sekarang sudah ditanami kopi, alhamdulillah. Alhamdulillah tanah jadi kokoh, tidak erosi lagi istilahnya," ujarnya.

Masih di kawasan Kamojang dan tak jauh dari kebun yang dikelola Ade, detikJabar berkesempatan menyaksikan tahapan berikutnya dari perjalanan biji kopi, yakni proses penjemuran. Di bawah terik matahari, biji kopi berjenis arabika tersebut dikeringkan secara tradisional dengan cara dijemur di atas rak kayu yang dihamparkan secara terbuka.

Kopi itu sudah hampir mengering sempurna, warnanya pun sudah menghitam dan menimbulkan wangi khas kopi saat kita mendekati rak pengeringan kopi itu. Agar ceri kopi itu kering merata, seorang pria tua nampak asyik membalikan kopi itu satu persatu, buah kopi yang mash terlihat berwarna merah dibalikkan dan diposisikan ke atas agar terbakar matahari.

Biji-biji kopi tersebut hampir mengering sempurna. Warnanya telah berubah gelap, menguapkan aroma khas yang langsung tercium begitu kita mendekati rak penjemuran. Agar keringnya merata, seorang pria paruh baya tampak telaten membalikkan biji kopi tersebut satu persatu. Buah kopi yang masih menyisakan rona merah dibalik dan diposisikan menghadap ke atas agar tersengat matahari secara maksimal.

"Ini seminggu lagi kering. Ini kalau sudah kering nanti di huller, terus antara kulit dan green bean nya terpisah. Nanti green bean-nya bisa dijual langsung atau di-roaster langsung dan di-grinder atau digiling, kopi siap diseduh atau diproses lagi menggunakan mesin kopi," kata Aki Undang sambil memilih biji kopi yang dijemur itu.

Aki Undang, sekaligus pemilik AKKAR Kamojang, menuturkan meskipun dia tidak memiliki kebun kopi sendiri, ia menampung hasil panen para petani lokal dan menawarkan harga yang kompetitif sesuai pasaran. Aki Undang mengatakan, saat ini ada sekitar 25 petani yang rutin memasok kopi kepadanya. Dalam satu masa panen, dia bisa menyerap hingga belasan ton kopi dari para petani.

"15 ton ya, itu cherry nya," ucapnya.

"Dipasarkannya kemana? Kita punya langganan-langganan di Jakarta lah. Kebutuhan pribadi sama kafe-kafe. Kita belum ekspor, karena jangankan ekspor, di sini (dalam negeri) saja sudah habis," tambahnya.

Aki Undang mengisahkan, banyak pecinta kopi datang langsung ke Kamojang untuk membeli kopi hasil panen para petani. Tak hanya kopi hasil proses, dia juga sebut jika banyak orang yang mencari bibit kopi dari Kamojang.

"Dari mana-mana datang ke sini, dari Pangalengan, Banjaran, Ciparay, Lembang, cari bibit kesini. Katanya bibi kopi di sini bagus. Kopinya bagus kan MDPL-nya bagus di Kamojang itu, sekitar 1.400, udah bagus kopinya," ujarnya.

Aki Undang menyebutkan, harga kopi juga saat ini sedang bagus dan itu memberi dampak baik kepada para petani. Dalam rentang setahun terakhir, harga kopi naik sekitar Rp5 ribu perkilogramnya. "Kemarin-kemarin Rp17 ribu, sekarang sudah mencapai Rp22 ribu, harga 17 ribu itu tahun 2025 an," ucapnya.

Transformasi Pertanian Kamojang: Saat Petani Sayur Beralih ke Emas Hijau Kopi

Aki Undang melakukan penjemuran kopi, karena jumlahnya sedikit proses penjemuran dilakukan secara konvensional.Aki Undang melakukan penjemuran kopi, karena jumlahnya sedikit proses penjemuran dilakukan secara konvensional. Foto: Wisma Putra/detikJabar

Dari lokasi penjemuran, Aki Undang mengajak detikJabar ke meja kerjanya. Di balik meja kerjanya itu, jemarinya telaten memilah satu per satu green bean. Sambil mengenang masa lalu, ia bercerita bagaimana Kamojang pada 2018 ke belakang dulunya didominasi oleh petani sayur. Melihat nilai ekonomis kopi yang jauh lebih tinggi, perlahan-lahan banyak petani yang akhirnya beralih komoditas. Ia juga masih ingat betul, ketika pertama kali menampung biji kopi dari petani, harganya masih di bawah Rp10.000.

"Dulu petani di sini menanam sayuran, jeruk, dan stroberi," ujar pensiunan perusahaan BUMN itu.

"Jadi awalnya tidak tertarik dengan kopi. Setelah pensiun, saya melihat banyak petani kopi di sini yang kesulitan menjual hasil panennya karena harus membawanya keluar daerah tanpa ada penampung lokal. Akhirnya pada tahun 2018 saya memutuskan untuk mulai menampung hasil panen kopi petani dengan harga beli sekitar Rp6-7 ribu per kilogram," terangnya.

Aki Undang mengklaim bahwa alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sayur jauh lebih masif di Kertasari jika dibandingkan dengan Ibun. Meski demikian, ia tidak menampik bahwa alih fungsi lahan juga terjadi di Ibun. Oleh karena itu, ia terus mendorong dan mengingatkan para petani mitranya untuk menanam kopi yang dibarengi dengan penanaman pohon keras.

"Sebetulnya kalau konsisten, harusnya menanam kopi dibarengi dengan menanam kayu. Seperti saya di sini punya kopi percontohan buat para petani. Di sana ada pelatihan dari Pertamina, dibuatkan saungnya juga di sana. Jadi saya mencontohkan dulu, menanam kayu sambil nanam kopi. Kayunya sudah penuh, sudah segini sekarang tuh," ujarnya sambil menunjuk dadanya.

"Menanam kayu baru kopi, jangan ditanami sayuran. Kalau ditanami sayuran, tanahnya bisa terbawa ke bawah, longsor ke sana tuh (aliran sungai). Jangan ada kayu yang ditebang, jangan dirusak kayunya, biarin saja," sambungnya.

Dukungan Pertamina untuk Kopi Kamojang: Kemasan-Pengering Kopi

Aki Undang, menunjukan kemasan kopi yang diproduksinya.Aki Undang, menunjukan kemasan kopi yang diproduksinya. Foto: Wisma Putra/detikJabar

AKKAR Kamojang sudah ada sejak 2019 lalu. Namun, baru bermitra dengan Pertamina sejak tahun 2022 lalu. Untuk mendukung bisnisnya, Pertamina memberikan kemasan kopi dengan desain yang menarik dan berwarna. Seperti diketahui, Aki Undang menyebut, saat pameran, kemasan-kemasan yang unik dan mencolok akan menarik perhatian pengunjung.

"Di Samping kualitas, kemasan juga berpengaruh untuk penjualan," ujarnya.

"Kita diberi kemasan, kemasan ini ada logo Canaya dan Pertamina, Aki dibuatkan 1.000 pcs, gratis. Tapi kalau habis berarti harus buat lagi sendiri. Bantuan ini sangat membantu para petani dalam mengembangkan usahanya," kata Aki Undang sambil melempar tawa lepas.

Selain itu, Pertamina turut memfasilitasi pembangunan Geothermal Dry House atau rumah pengering kopi di bawah program Geothermal Coffee Process (GCP) yang dikelola oleh Canaya. Saat ini ada 3 unit green house untuk pengeringan kopi, dengan kapasitas tampung sekitar 3 ton kopi per unitnya.

"Untuk proses penjemuran di dalam green house, biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari hingga benar-benar kering jika cuaca mendukung. Setelah kering, kopi kemudian masuk ke tahap pengupasan kulit menggunakan mesin huller untuk memisahkan gabahnya, lalu digiling kembali untuk menghasilkan green bean sebelum akhirnya siap disangrai," jelasnya.

Berbicara soal Geothermal Dry House, detikJabar berbincang langsung dengan salah satu pengelolanya, Moh Ramdhan Reza Nur Fadillah. Pria berusia 35 tahun yang juga pemilik Ecovill Coffee & Roastery di Jalan Paseh Kamojang ini menyebutkan bahwa alat pengering kopi tersebut cukup efektif dan dapat mempercepat waktu penjemuran.

"Karena kan si panasnya 24 jam, jadi kita enggak bergantung matahari. Bisa menghemat waktu 3-4 kali lipat. Kalau konvensional, misalkan dia butuh waktu sampai satu bulan bahkan lebih, kita kan paling lama cuma 10 hari ya, 8-10 hari," katanya.

Pria yang karib disapa Mang Deden itu menyebutkan, pengeringan kopi dengan memanfaatkan panas bumi tidak akan mengurangi kualitas kopi tersebut. Pasalnya, sebelum digunakan, alat tersebut telah melalui tahap penelitian, pengujian, bersertifikasi, bahkan memiliki hak paten sendiri.

"Cara kerjanya, jadi si geothermal ini intinya dipakai sebagai tenaga panas menggantikan matahari buat manasin ruangan, yang kita pakai itu radiasi panasnya, bukan direct si uapnya. Jadi di bawahnya itu pipa, di bawah rak jemuran itu ada pipa yang dialiri panas. Si pipanya itu panas jadi bisa panaskan ruangan," jelasnya.

Mang Deden: Pengering Kopi dengan Memanfaatkan Panas Bumi Inovasi Pertama di Dunia

Melihat dari dekat proses penjemuran kopi.Melihat dari dekat proses penjemuran kopi. Foto: Wisma Putra/detikJabar

detikJabar berkesempatan mencicipi secangkir kopi racikan barista terbaik di kedai milik Mang Deden. Satu tegukan hangat berpadu sempurna dengan kepulan uap tipis dari biji kopi pilihan yang lahir langsung dari tanah Kamojang. Sambil menikmati hangatnya kopi tersebut, di sela perbincangan Mang Deden melontarkan sebuah pernyataan monumental yang mengubah cara pandang kita terhadap industri pengolahan kopi.

Tempat pengeringan kopi berbasis panas bumi itu dinamai 'Canaya' akronim dari bahasa Sunda 'can aya' yang berarti 'belum ada'. Dari filosofi nama itulah, ia berani mengklaim bahwa fasilitas penjemuran kopi ini merupakan yang pertama, bahkan satu-satunya di dunia.

"Canaya tuh Bahasa Sunda, jadi 'can aya' (belum ada) di mana-mana, maksudnya pengolahan kopi menggunakan panas bumi. Baru di kita aja yang pertama dan satu-satunya. Jadi di dunia juga baru di kita yang pakai panas bumi buat," tutur Mang Deden.

Sukses dikembangkan di Kamojang, Kabupaten Bandung, Mang Deden sebut jika pengering kopi ini akan dibangun di dua wilayah lainnya di Indonesia oleh pihak Pertamina. "Rencananya mau direplikasi di Ulu Belu dan di Lahendong. Di Ulu Belu, Lampung sama di Lahendong, Sulawesi Utara," terangnya.

Lalu saat apa bedanya dengan alat pengering kopi modern dengan menggunakan mesin, Mang Deden sebut, beda, karena mesin pengering yang menggunakan mesin harus menggunakan bahan bakar atau lainnya. Selain itu, mesin pengeringan ini ramah lingkungan dan murah.

"Kita juga kategorinya mekanisasi ya, pengeringan mekanisasi karena kan menggunakan alat. Nah, yang lain itu sebetulnya tenaganya itu ada yang pakai fosil ya bensin atau solar, ada yang pakai gas, ada yang pakai panel surya. Metodenya sama sebetulnya, cuman secara ramah lingkungannya jauh lebih ramah lingkungan kita, secara cost-nya lebih murah kita juga. Karena kan kita memang menggunakan sisa uap produksi ya yang tadinya dibuang begitu saja ya kita manfaatin," jelasnya.

Menakar Potensi Kopi 'Panas Bumi' dari Kamojang

Lahan tidak produktif di kawasan Kamojang yang sebelumnya ditanami sayur kini dialihkan menjadi kopiLahan tidak produktif di kawasan Kamojang yang sebelumnya ditanami sayur kini dialihkan menjadi kopi Foto: Wisma Putra/detikJabar

Mang Deden menilai potensi kopi yang ditanam di dekat kawasan panas bumi Kamojang sangat luar biasa karena biji kopi dari wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Garut ini telah beberapa kali masuk nominasi ajang bergengsi Cup of Excellence (COE). Selain itu, produk tersebut juga sudah merambah pasar ekspor.

Secara pribadi, Mang Deden juga menjual produknya ke luar negeri di antaranya ke 'Negeri Sakura' Jepang dan Jerman, sementara petani lainnya telah menembus pasar Skotlandia, Korea, dan Amerika Serikat hingga Timur Tengah. Menurutnya, pencapaian ini menjadi indikator bahwa kualitas dan jangkauan produk lokal semakin luas.

Di luar manfaat ekologisnya, Mang Deden mengungkapkan bahwa kehadiran kopi telah membawa angin segar bagi perekonomian petani di Kamojang. Komoditas ini berhasil meningkatkan kesejahteraan mereka yang dulunya lama berkecimpung sebagai petani sayur konvensional.

"Setahu saya 2017-2018-an masih banyak petani sayuran. Nah, ya saya juga coba pendekatan ke petani gitu kan, kasih pemahaman dari segi ekonominya. Karena kopi itu punya nilai ekonomi dan konservatif, beda dengan sayuran. Kalau sayuran kan dia cuma ekonomi aja tapi malah lebih berpotensi jadi penyumbang banjir ke Majalaya," terangnya.

"Konservasi yang pertama, kedua saya saya senang yang sifatnya pemberdayaan, saya senang bergabung sama Pertamina. Jadi saya melihat kopi itu kita enggak berbicara tentang semata-mata uang, banyak nilai-nilai konservasinya di dalamnya, banyak nilai-nilai pemberdayaan di dalam si industri kopi itu sendiri," tambahnya.

Mang Deden menuturkan kopi merupakan tanaman konservasi yang tidak hanya berfungsi menghasilkan oksigen dan menyimpan cadangan air, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Alasan itulah yang membuatnya lebih menyukai komoditas kopi dibanding sayuran.

"Banyak yang beralih ke kopi, karena ekonomi. Bukan lebih tinggi, tapi kopi lebih pasti, lebih stabil. Karena kan kalau sayuran tuh, kebanyakan kan pola tanamnya 3 bulan panen gitu kan. Setelah dan itu tuh harganya fluktuatifnya ekstrim, kadang rugi, kadang untung gitu. Kalau kopi itu kan satu kali tanam, tinggal rawat aja setelah dia mulai berbuah ya tiap tahun dia panen dan harganya cenderung stabil," ucapnya.

Mang Deden menegaskan bahwa dia bukan berarti tidak suka terhadap petani sayur, melainkan pengingat bahwa aktivitas pertanian harus disesuaikan dengan peruntukan wilayahnya, khususnya agar tidak ditanam di kawasan dengan ketinggian tertentu yang tidak sesuai peruntukannya.

"Kayak di lereng, kan kalau sayuran tidak menyimpan cadangan air. Jadi saat menanam sayur di lereng-lereng itu otomatis kan tanah-tanah itu ikut terbawa aliran air ke sungai, nanti menimbulkan sedimentasi sungai. Makanya kenapa di Citarum sedimentasinya ekstrim, ya karena itu banjir kiriman dari atas, kan. Kalau sekarang kan paling besarnya itu dari Kertasari. Kertasari sendiri mayoritas petaninya sayuran," ujarnya.

Pencapaian Mang Deden Fokus Kembangkan Kopi Panas Bumi

Mang Deden, menunjukan salah satu penghargaan selama dia berkiprah di dunia kopi.Mang Deden, menunjukan salah satu penghargaan selama dia berkiprah di dunia kopi. Foto: Wisma Putra/detikJabar

Perjalanan Deden bermula dari akar yang sederhana. Sebagai anak petani kopi, ia memilih untuk meneruskan warisan sang ayah di ladang. Berbekal pengetahuan dan kecintaannya pada alam, ia tak hanya merawat tanaman kopi warisan keluarga, tetapi juga mengembangkannya hingga sukses menorehkan berbagai prestasi gemilang sebelum akhirnya merambah dunia bisnis coffee shop dan distribusi green bean.

"Kalau yang sudah dicapai itu banyak pencapaian yang di luar ekspektasi saya pribadi sih, seperti penghargaan-penghargaan yang sebetulnya saya terjun di kopi enggak mengharapkan penghargaan. Penghargaan dari mulai daerah, provinsi, sampai tingkat ASEAN, saya sudah dapat penghargaan itu," katanya.

"Yang terakhir itu dari Provinsi Jawa Barat sebagai local hero di bidang ekonomi, khususnya CSR, saya dapat penghargaan juga. Kemudian kemarin itu di PIK 2 di di Jakarta, top penghargaan juga dari Asosiasi Kopi Indonesia sebagai Most Innovative Coffee Process di Indonesia," tuturnya.

Mang Deden juga menyebut, pada Bulan November dia mendapat undangan untuk menghadiri International ASEAN Coffee Summit di Singapura. Menurutnya, berbagai pencapaian dan apresiasi yang ia raih saat ini sungguh berada di luar ekspektasinya. Ia menambahkan bahwa kesuksesan dan inovasi tersebut tidak lepas dari fokus mereka pada aspek energi terbarukan atau renewable energy, keberlanjutan atau sustainability, dan pemberdayaan masyarakat.

"Terus kayak dari kopi juga, saya enggak nyangka-nyangka bisa keliling Indonesia, bahkan bisa sampai diundang ke Jepang, Thailand, Australia, ke Panama, gara-gara kopi juga," imbuhnya.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Deden mengaku masih banyak target yang ingin diraihnya, terutama dalam hal memberikan dampak sosial semaksimal mungkin bagi masyarakat sekitar. Selain itu, ia memiliki cita-cita besar di industri kopi, yakni agar minimal 50 persen hasil panen kopi Kamojang dapat diserap oleh GCP (Good Coffee Project) itu sendiri. Menurutnya, potensi yang ada masih sangat besar, mengingat saat ini sekitar 60 hingga 70 persen hasil panen kopi dari Kamojang masih banyak yang dipasarkan ke luar daerah.

"Jadi, di saat hasil panennya banyak yang lari ke luar, otomatis multiplier effect-nya enggak akan dapat kan di lokalnya, otomatis dampak sosial ekonominya lari ke luar juga. Makanya yang saya harapkan secara industri kopi itu, ya kita bisa menyerap minimal 50% lah, agar multiplier effect-nya dapat, terus saya pengen apa ya, mendorong supaya pelaku-pelaku kopi hilirnya pun di sini tumbuh. Semakin banyak coffee shop di Kecamatan Ibun saya malah senang, saya malah senang," tuturnya.

Menurutnya, industri kopi dari hulu hingga hilir harus berjalan seimbang. Sebagai perbandingan, ia melihat bagaimana Lampung begitu bangga dengan kopi lokalnya karena ditopang oleh produsen dan pelaku industri yang banyak, sehingga wisatawan yang berkunjung seolah merasa wajib mencicipi kopi khas sana dan pasar lokalnya terbentuk dengan baik. Melalui contoh tersebut, ia berharap ekosistem yang sama juga bisa terbangun di Ibun Kamojang.

"Jadi, secara sosial ekonominya berdampak, secara lingkungannya juga nanti hijau juga, terus apa ya, mengurangi potensi-potensi bencana juga," katanya.

Inovasi Pengeringan Kopi Berbasis Panas Bumi, PGE Area Kamojang Hadirkan Kopi Berstandar Tinggi

Lebatnya pohon kopi yang ditanam di kawasan Kamojang yang lokasinya tidak jauh dari kawasan panas bumi.Lebatnya pohon kopi yang ditanam di kawasan Kamojang yang lokasinya tidak jauh dari kawasan panas bumi. Foto: Wisma Putra/detikJabar

Ahmad Yani, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, menyatakan bahwa pemanfaatan panas bumi tidak sekadar menghasilkan energi bersih, melainkan juga harus memberi nilai tambah bagi warga di sekitar wilayah kerja.

Salah satu wujud komitmen PGE dalam mengoptimalkan pemanfaatan langsung (direct use) panas bumi adalah melalui pengembangan Geothermal Coffee Process (GCP). Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, mendongkrak daya saing produk lokal, serta menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

"Melalui inovasi seperti Geothermal Coffee Process, kami ingin menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Inovasi ini menjadi bukti bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ungkap Ahmad Yani.

Sementara itu, General Manager PGE Area Kamojang, A Novi Purwono mengatakan, keunikan Canaya tidak lepas dari proses produksinya yang menggunakan GCP, yaitu inovasi proses pengeringan kopi berbasis pemanfaatan langsung energi panas bumi yang menjadi yang pertama di Indonesia.

Menurut Novi, Canaya merupakan bukti bahwa energi panas bumi tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas dan nilai tambah komoditas lokal melalui inovasi direct use geothermal.

"Canaya merupakan produk Geothermal Coffee Process, yaitu kopi yang diproses menggunakan teknologi pengeringan berbasis energi panas bumi melalui sistem direct use geothermal. Inovasi ini menjadi yang pertama di Indonesia dalam pemanfaatan panas bumi untuk proses pengeringan kopi dan menunjukkan bahwa energi panas bumi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan daya saing kopi lokal," jelas Novi.

Teknologi ini mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi dari pembangkit listrik Kamojang yang disalurkan melalui sistem heat exchanger. Hasilnya, proses pengeringan biji kopi yang sebelumnya memakan waktu sekitar 30 sampai 40 hari, tergantung kondisi cuaca, kini dapat dipangkas menjadi hanya 3 sampai 10 hari.

"Dengan suhu dan kelembaban yang terjaga 24 jam, kualitas biji kopi lebih bersih, seragam, dan minim cacat rasa. Cita rasa manis buah dan keasaman khas Arabika Kamojang pun tetap terjaga," jelas Novi.

Selain dampak sosial, program ini mendukung upaya dekarbonisasi dengan mengurangi ketergantungan pada alat pengering berbahan bakar fosil. Inovasi ini telah mengantarkan PGE Area Kamojang meraih penghargaan bergengsi ASEAN Renewable Energy Project Awards 2024.

pihaknya saat ini mengembangkan Canaya di RECHARGE - Green Brew Space. Hal itu menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan hasil inovasi direct use geothermal kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui kolaborasi ini, masyarakat luas dapat menikmati kopi yang diproses menggunakan energi panas bumi sekaligus memahami bagaimana pemanfaatan energi bersih mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Dia berharap kehadiran Canaya di RECHARGE - Green Brew Space tidak hanya menjadi sajian bagi para pengunjung, tetapi juga menginspirasi pemanfaatan energi panas bumi secara lebih luas melalui kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat dalam mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia.

"Kami percaya keberlanjutan akan tercapai ketika masyarakat menjadi pelaku utama. Karena itu, PGE tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga memperkuat kelembagaan koperasi agar mampu mengelola potensi lokal secara mandiri," pungkas Novi.

(wip/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Jual Tiket & Promosikan
Acaramu hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
${event.name}

${event.name}

${this.helper.parseDate(event)}
${this.helper.parsePrice(event.price_min)}
Pesan Tiket
`; } renderMultiple(events) { if (!events || events.length === 0) return; this.shadowRoot.innerHTML = ` `; } renderNone(){ this.shadowRoot.innerHTML = `
No Event Available
`; } } customElements.define("cb-detikevent", CbDetikevent);
Explore IndonesiaNow Read in English
`; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads