Kepolisian di wilayah administratif Garmiyan, provinsi Sulaimani, Irak mengumumkan penangkapan seorang pemuda bersenjata yang diduga mengancam penceramah di beberapa masjid distrik Kifri dengan mengatasnamakan Negara Islam (ISIS), Jumat (30/10/2026).
Dilansir dari situs RUDAW, tersangka merupakan penduduk Kifri diduga memasuki sejumlah masjid ketika pelaksanaan salat Jumat. Ia menyerahkan secarik kertas kepada beberapa penceramah yang bertuliskan "Negara Islam" dalam bahasa Arab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami telah menangkap seorang pemuda kelahiran tahun 2006 yang membawa pistol. Ia adalah penduduk Kifri dan diduga memiliki keterkaitan dengan ISIS setelah melontarkan ancaman terhadap beberapa masjid," kata juru bicara kepolisian Garmiyan, Soran Mohammed Gharib.
Menurut penuturan Gharib, penyelidikan atas insiden itu sudah dimulai dan tersangka telah diserahkan kepada pasukan Asayish untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pihak berwenang belum mengonfirmasi apakah tersangka benar-benar memiliki hubungan dengan ISIS.
ISIS sempat menguasai sebagian besar wilayah Irak pada 2014 sebelum akhirnya dikalahkan secara teritorial pada 2017. Tetapi, sisa-sisa kelompok ISIS masih terus menimbulkan ancaman keamanan, terutama di daerah pedesaan dan wilayah yang dipersengketakan antara Baghdad dan Erbil.
Dikutip dari publikasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang ditulis dr Najih Ibrahim dan Reuters, mulanya ISIS adalah satu-satunya organisasi pewaris resmi Al-Qaeda di Irak yang berdiri pada 2004. Tepatnya setelah invasi AS ke Irak pada era Sadam Hussein.
Kelompok ini didirikan Abu Mush'ab Az Zarqawi asal Yordan yang melarikan diri ke Afghanistan. Zarqawi lari setelah divonis hukuman mati karena terlibat ledakan salah satu hotel di Amman Yordan.
Di Afghanistan, Abu Mush'ab Az Zarqawi bertemu dengan Osama bin Laden dan membaiatnya sebagai pemimpin. Sebelumnya, Abu Mush'ab Az Zarqawi mendirikan organisasi dengan nama At Tauhid wa Al Jihad.
Setelah membaiat Osama bin Laden, organisasinya berganti nama menjadi Qa'idatul Jihad fii Bilad Rafidain. Semua perangkat organisasi termasuk pemikiran dan struktur, telah bergabung dalam Al Qaeda.
Zarqawi pun mendirikan Al-Qaeda in Irak (AQI), cabang Al-Qaeda di Irak. AQI banyak melancarkan serangan teror terhadap komunitas Syiah yang mayoritas di Irak, dengan harapan memicu perang sektarian.
Setahun sebelumnya, Zarqawi pindah ke Irak bersama ribuan militan lainnya untuk melawan tentara AS dan Inggris yang menginvasi negara tersebut. Dia kemudian terbunuh pada serangan udara pesawat tempur Amerika di Irak pada 2006.
Pembunuhan ini disebut sebagai bentuk balasan atas eksekusi para sandera warga Amerika dan menyebar foto-foto pembunuhan di berbagai website. Tindakan inilah yang menunjukkan sikap Zarqawi sebenarnya terhadap rakyat sipil.
Zarqawi dikenal lebih ekstrim dalam mengkafirkan dan membunuh daripada pendiri Al Qaeda. Setelah kematian Zarqawi, dia digantikan Abu Hamzah Al Muhajir dan Abu Umar Al Baghdadi. Mereka pun mengubah nama organisasi menjadi Islamic State of Iraq (ISI).
Pada 19 April 2010, Tentara Amerika dan Tentara Irak membunuh Abu Hamzah Al Muhajir dan Abu Umar Al Baghdadi. Pemimpin ISI kembali digantikan seorang warga Irak yang bernama Abu Bakar Al Baghdadi.
Tahun 2011, Baghdadi mengirimkan pasukannya ke Suriah yang sedang dilanda konflik pemberontak melawan rezim Presiden Bashar al-Assad. Dua tahun kemudian, Baghdadi mengganti nama kelompoknya menjadi Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL).
Pada masa kejayaannya, ISIS menguasai wilayah strategis Irak dan Suriah. Lebih dari 40 ribu orang dilaporkan pindah dan tinggal di wilayah-wilayah yang diklaim sebagai kekhalifahan ISIS. Pada saat bersamaan, ISIS melancarkan serangan teroris yang brutal dan mengerikan di berbagai negara.




































































