Seorang pedagang batu akik, Andi (73), menyebut warga yang datang ke Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur (Jaktim), lebih banyak hendak menjual kembali batu akiknya dibanding membeli. Andi mengatakan Pasar Rawa Bening saat ini sudah mulai sepi pembeli.
"Banyakan ngejual," kata Andi saat ditemui di Pasar Batu Akik, Sabtu (31/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andi sudah berjualan batu akik di Pasar Rawa Bening selama 14 tahun. Dia mengatakan Pasar Batu Akik Rawa Bening masih ramai pada 2014.
"Ya orang butuh, ya nggak ada beli, jual. Daripada dia keluar duit di ATM, mendingan dia jualin barang bekas. Udah lama nggak kepakai, dia jual-jualin murah juga. Yang kaya, yang itu juga sama, pada ngejualin. Banyak saya dapat barang murah. Tapi kita jual juga susah, ya pembelinya nggak ada," tuturnya.
Andi mengatakan Pasar Batu Akik Rawa Bening mulai sepi sejak pandemi COVID hingga sekarang. Dia menilai kondisi keuangan saat ini memengaruhi jumlah pembeli batu akik di Pasar Rawa Bening.
"Mulai sepi ya COVID-lah masih bisa untung kita dagang. Sekarang malah. Dari COVID kemarin, PSBB. Dari PSBB kemarin merosot terus begini. Sekarang hancur lho. Butuh jual, butuh jual. Barang orang dijualin nggak disetorin. Yang punya juga pusing mau ditagih juga emang keadaan begini," ujarnya.
Lebih lanjut, Andi mengatakan dulu bisa menjual satu batu akik bernilai puluhan juta rupiah, tapi kini tak lagi. Dia mengaku tak punya pilihan selain berjualan batu akik untuk menyambung hidup.
"Bacan aja, bacan dulu Rp 10 juta. Sekarang paling bisa kejual sejuta udah bagus. Jangan harap yang muluk-muluk laku. Mau jual mahal nggak bisa, jual Rp 2 juta. Umpamanya dulu Rp 10 juta, sekarang paling kejual Rp 2 juta. Kalau mau pakai duit, kalau mau ngejual mahal lagi nggak bisa," ujarnya.





















































