Gajah sumatera bernama Deo dan Sinta terus dipantau setelah beberapa waktu menghuni Tabang Zoo, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Kebiasaan keduanya juga tetap dipertahankan, mulai dari berenang hingga menggaruk dan menggesekkan badan ke batang kayu yang sengaja disediakan.
Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, M Ari Wibawanto mengatakan kondisi Deo dan Sinta terus dipantau setiap hari, termasuk kesehatannya. Perawatan keduanya bahkan masih melibatkan mahout atau pawang dari Gembira Loka Zoo yang telah mengenal karakter kedua gajah tersebut.
"Saat ini bisa dilihat di Instagram kami terkait dengan kondisi Deo dan Sinta. Di sana dilakukan perawatan semaksimal mungkin kepada mereka. Demikian juga dokter hewannya di Tabang Zoo, dokter hewan cukup banyak ada lima personel. Di sana pun mahout-nya adalah mahout yang sudah kenal dengan Deo dan Sinta. Jadi, mahout dari Gembira Loka itu sekarang berada di Tabang Zoo," ujar Ari kepada detikKalimantan, Minggu (27/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keseharian Deo dan Sinta di Kaltim juga disesuaikan dengan kebiasaan yang telah dimiliki keduanya sejak di kebun binatang sebelumnya. Mulai dari waktu berenang hingga kedalaman kolam menjadi bagian yang diperhitungkan dalam fasilitas mereka.
"Misalkan Deo dan Sinta biasanya berenang pada jam segini dengan kedalaman segini. Nah, ini disesuaikan dengan itu. Semuanya disesuaikan dengan spesifik dari gajah itu sendiri, baik dari badannya, morfologinya, ataupun dari sifat-sifatnya," katanya.
Bahkan kebiasaan Deo menggaruk hingga menggesekkan badannya turut diperhatikan. Batang kayu disediakan di lokasi agar perilaku tersebut tetap dapat dilakukan.
"Kebiasaan misalkan si Deo itu menggaruk-garuk badannya, menggesek-gesek pada batang kayu, maka kita harus menyediakan batang kayu itu. Itu sudah kita sesuaikan dengan kondisi itu," ungkapnya.
Penyesuaian fasilitas tersebut telah dirancang sebelum kedua gajah dipindahkan ke Kaltim. BKSDA melakukan dua kali kajian yang turut melibatkan peneliti gajah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pihak Gembira Loka Zoo.
"Misalkan gajah si Deo dan Sinta itu tingginya berapa meter, maka kandangnya harus berapa meter itu harus disesuaikan. Kemudian kebiasaan-kebiasaan Deo dan Sinta itu juga menjadi salah satu upaya pembuatan kandang tersebut," ucapnya.
Tabang Zoo kemudian dipilih karena dinilai mampu memenuhi seluruh persyaratan tersebut. Ari mengatakan sebenarnya terdapat pihak lain yang bersedia menerima Deo dan Sinta, tetapi fasilitas yang disiapkan belum memenuhi kebutuhan kedua gajah tersebut.
"Yang ingin menampung ada banyak. Tapi yang memenuhi persyaratan ini cuma Tabang Zoo. Jadi Tabang Zoo ini yang siap dan mau mengikuti aturan," jelasnya.




























































