Pernahkah membayangkan bagaimana limbah diapers bekas-yang biasanya dibuang dengan rasa bersalah dan merusak bantaran sungai-bisa berubah menjadi wadah bagi kehidupan baru?
Di sudut Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, tumpukan diapers yang sempat menjadi ancaman lingkungan kini disulap menjadi pot-pot bunga nan cantik. Namun, di balik pot-pot kokoh itu, ada cerita yang jauh lebih dalam: tentang kerinduan pada tanah kelahiran, mimpi-mimpi yang sempat tertunda, dan tekad para mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk tidak lagi merantau jauh dari pelukan keluarga.
Tahun 2014 hingga 2019 adalah masa-masa dimana Supianto harus memendam rindu mendalam pada kampung halaman. Lima tahun ia menghabiskan waktu bertaruh nasib di Taiwan, memeras keringat di negeri asing demi menyambung hidup keluarga yang dicintainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu saya berangkat kerja ke luar negeri dengan harapan ingin memperoleh penghasilan banyak dan mengubah ekonomi keluarga, terus saya juga memiliki keinginan berangkat TKI pulang sarjana," ungkap Supianto, mengenang masa-masa ia memadukan kerja keras dengan mimpi besar, Rabu (31/10/2026).
Namun, sekembalinya ke tanah air, nuraninya tak tenang melihat bantaran sungai Pantura yang tertutup sampah. Didorong rasa cinta yang mendalam pada kampung halamannya, Supianto merangkul sesama mantan pekerja migran. Bersama 63 jiwa yang bernasib sama dalam Ikatan Migrant Workers Association (IMWA), mereka memutuskan untuk menyatukan tangan.
Dari situlah lahir Program Purnama pada tahun 2022, didukung oleh PT Pertamina EP Subang Field. Sebuah wadah pemberdayaan agar tak ada lagi mata yang menangis karena harus berpisah dengan buah hati demi lembaran rupiah di negeri orang.
"Dengan adanya program Purnama dari Pertamina EP, kami terbantu dari segi ekonomi. Harapan kami, para purna TKI berdaya di sini, tidak perlu kembali lagi ke luar negeri," tutur Supianto, matanya menyiratkan kehangatan dan keharuan.
Di tangan para anggota komunitas, diaper (popok) bekas tak lagi dipandang sebagai sampah kotor. Lewat proses yang penuh kesabaran, diapers diisolasi dan dibersihkan dari bahan berbahaya agar tak menyakiti bumi tempat mereka berpijak.
Limbah popok disulap jadi pot bunga. Foto: Dian Firmansyah/detikJabar |
Bahan yang telah disucikan itu kemudian dipadatkan, dibentuk, dan dihias dengan penuh ketelitian hingga menjadi pot-pot bunga yang kokoh. Di dalam pot itulah kini bunga-bunga bermekaran, sebuah lambang bahwa dari sesuatu yang terbuang, harapan baru selalu bisa tumbuh kembali jika dirawat dengan cinta.
Perjuangan mereka tak sia-sia. Pot-pot bunga karya purna TKI Compreng ini tak hanya berhasil menembus pasar dan memenangkan kompetisi di tingkat kabupaten hingga provinsi, tetapi juga mengembalikan harga diri para pekerja migran yang dulu sering dipandang sebelah mata.
Bagi Supianto dan teman-temannya, setiap pot yang tercipta adalah bukti bahwa mereka tidak perlu pergi jauh untuk menjadi berarti.
"Kami ingin menunjukkan bahwa purna migran tidak hanya bisa sukses di luar negeri, tetapi juga bisa berdaya dan mandiri di kampung halaman. Ini adalah bentuk bakti kami untuk negeri," ucapnya penuh haru.
Kini, di bawah naungan Program Purnama, sungai Pantura pelan-pelan kembali bernapas, dan para purna TKI tak perlu lagi mengepak koper untuk pergi jauh. Di tanah sendiri, mereka telah menemukan cara untuk berdaya, merawat bumi, dan berkumpul bersama keluarga yang mereka cintai.
(sud/sud)























































