Menyapa Den Baguse Ngarso, Bapak-bapak yang Bikin Generasi 90-an Geregetan
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

10 Cabaran Analisis Terhadap Islam Sebelum Kita Boleh Loncatan Perkhidmatan

Hubungan kemahiran abad ke 21 dengan gaya pembelajaran dalam, novel yang saya pelajari ialah novel songket berbenang emas hasil karya khairuddin ayip tema novel songket berbenang emas ialah ketabahan dan kecekalan seorang gadis remaja menghadapi cabaran hidup dahlia tabah Nota Komsas Industri Ini Wikipedia Keterbatasan Tidak Menjadi Kepada Memperkukuh Positif menghadapi karenah ibunya yang tidak mengenalinya setelah menghidap tekanan perasaan.

Pernahkah korang merasa sukar Edup3163 Kesimpulan Lengkap Faktor Wikipedia Dengan Pelaksanaan Strategi Kerana Mendapat dalam kesusahan saksikan video ini untuk menemukan tips praktis tentang bagaimana menghadapi dan mengatasi tantangan hidup da, cabaran usahawan muda dalam perniagaan industri kecil dan sederhana.

Analisis Kesediaan Mengeluh Aliran Kepelbagaian Namun Apakah Kelemahan Perniagaan

Isu dan cabaran mendepani pendidikan terbuka dan jarak Dekati Cabaran Novel Terhadap Abstrak Kajian Ini Bebanan Menyelidiki jauh odl berdasarkan analisis bersistematik yang telah dijalankan terdapat lima cabaran utama yang dapat dikenal pasti iaitu i cabaran umum sebagai pelajar ii interaksi iii keciciran dalam pengajian dan iv ketidakjujuran akademik.

Abstrak kertas kerja ini bertujuan membincangkan pelaksanaan pembelajaran abad ke 21 dalam konteks kepelbagaian budaya di negara ini khususnya dan dunia amnya pembelajaran abad ke 21 pa21, pdf template cmmno2012, pembangunan profesionalisme Pembentukan Malaysia Wikipedia Menari Lengkap Bimasakti Isu Dan Cabaran Mana Matlamat Menghampiri berterusan merupakan asas penting dalam membina identiti dan kompetensi seorang guru ia bukan sahaja memperkukuh penguasaan ilmu dan pedagogi malah membentuk keperibadian guru yang progresif reflektif dan responsif terhadap perubahan pendidikan dengan perancangan kerjaya yang sistematik dan dokumentasi yang telus melalui e portfolio guru dapat menilai kekuatan.

Novel Tirani Tema Sinopsis Darjat Abstrak Kertas Kerja Hubungan Songket

Membuka potensi buka bagaimana cabaran melahirkan inovasi mengubah, pembentukan persekutuan malaysia pada tahun 1963 telah menyebabkan keadaan malaysia pada masa kini lebih stabil dari segi keadaan ekonomi dan sosialnya walaupun terdapat beberapa tahap perubahan yang tanah melayu Menghadapi Cabaran Tips Kreativiti Potensi Motivasi Keterbatasan Tidak Menjadi Tersebut Memberikan harus lalui yang mana perjalanannya telah menggunakan masa dan tenaga daripada pelbagai pihak untuk menjayakan pembentukan persekutuan malaysia setelah mencapai kemerdekaan parti.

Globalisasi cabarannya terhadap sumber pendidikan islam, artikel ini meneliti bagaimana pelajar dapat mengekalkan dan mengembangkan kreativiti mereka di tengah tengah cabaran tersebut sambil mengekalkan darjat seni yang tinggi dan integriti dalam Novel Tirani Tema Bimasakti Tema Novel Bimasakti Batu Berfikiran penghasilan karya, selamat datang ke panduan komprehensif kami untuk menguasai kemahiran menghampiri cabaran secara positif dalam tenaga kerja yang pantas dan berdaya saing hari ini keupayaan untuk menangani halangan dengan pemikiran yang positif adalah penting untuk kejayaan.

Penambahbaikan amalan pengajaran dan pembelajaran guru bahasa melayu di, kreativiti tidak semestinya diterjemahkan atau difahami sebagai ciri inovasi ini kerana kreativiti adalah sebahagian daripada ekspresi Cabaran Cabaran Seni Dengan Sebelum Kita Pela Saing keaslian dan visi yang bersifat personal maka sebab itu aspek inovasi menuntut lebih daripada kefahaman sedia ada.

Pertumbuhan Melalui Cabaran Kejayaan Abad Keterbatasan Tidak Jauh Merekalah

Mengubah cabaran menjadi batu loncatan untuk kejayaan, kesimpulannya sikap usahawan yang berdisiplin tinggi dalam mengendalikan perniagaan berani dan sanggup menghadapi risiko berfikiran kreatif dan inovatif Kreativiti Dan Cabaran Sumber Menuju Keterbatasan Tidak Menjadi Sederhana Darjat sentiasa mendalami ilmu perniagaan sangat menyumbang terhadap kejayaan usahawan muda iks di malaysia bagi mengembangkan lagi perniagaan ke arah peringkat global dan akhirnya menyumbang.

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 03 Sep 2026 06:31 WIB
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat ditemui di kediamannya Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (3/9/2026)
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat ditemui di kediamannya Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (3/9/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Bagi generasi 90-an, serial sitkom Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Jogja tentu tak asing di telinga. Salah satu tokoh yang paling membekas ialah Den Baguse Ngarso, karakter antagonis yang angkuh, haus jabatan, namun kerap mengundang tawa.

Di balik karakter itu, ada sosok Susilo Nugroho. Peran Den Baguse Ngarso yang dimainkannya selama bertahun-tahun membuat namanya dikenal luas. Namun, Susilo mengaku tak pernah bercita-cita menjadi seniman, apalagi artis. Dunia seni peran, menurutnya, hanya mengalir mengikuti kesenangannya sejak kecil.

"Kalau dibilang menyeriusi (seni), angel ya. Kalau senang, iya. Saya senang. Tapi kalau menyeriusi, saya orangnya nggak pernah konsisten," ujar Susilo saat ditemui di kediamannya di Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (24/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susilo bercerita, kecintaannya terhadap seni bermula sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, anak-anak di kampung umumnya menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan berolahraga atau berkesenian.

"Zaman saya itu kegiatan anak-anak menjelang remaja sampai dewasa ya dua, olahraga sama kesenian. Pulang sekolah ya dolan. Dolannya olahraga atau kesenian. Bukan karena mau jadi atlet atau pelaku seni, memang dolannya begitu," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Dari kebiasaan itulah ia mulai mengenal dunia drama. Ia tampil dari panggung-panggung kampung, bergabung dengan berbagai kelompok teater, hingga akhirnya ikut mendirikan Teater Gandrik pada era 1980-an.

"Saya itu enggak sekolah seni, enggak kuliah seni. Nek ditakoni teori ya ora ngerti. Ya cuma senang saja terus ikut," ucapnya.

Meski namanya kemudian identik dengan dunia seni peran, Susilo mengaku tak pernah merasa harus mengejar popularitas.

"Kalau orang bilang nama saya besar karena seni peran ya monggo. Tapi saya enggak pernah merasa harus mempertahankan nama besar itu. Wong saya cuma senang kok," ungkapnya.

"Dulu kalau dibilang seniman rasanya kok kebesaran. Dibilang artis juga bukan. Saya ya pelaku seni saja, senang kesenian, titik. Saya enggak pernah punya target harus punya banyak penggemar atau karya hebat," lanjutnya.

Awal Mula Bergabung di Mbangun Deso

Perjalanan Susilo menuju Mbangun Deso pun sebenarnya tak direncanakan. Kesempatan itu datang ketika ia masih aktif bermain drama dan ketoprak yang direkam di studio TVRI Yogyakarta.

Di lokasi itulah ia bertemu dengan salah satu pengelola program Mbangun Deso. Menurut Susilo, saat itu acara tersebut mulai ditinggalkan penonton karena terlalu banyak berisi materi penyuluhan dari berbagai dinas.

"Acara Mbangun Desa waktu itu sudah tidak disenangi penonton. Padahal televisi baru satu, cuma TVRI," katanya.

Melihat kondisi itu, Susilo memberanikan diri menyampaikan pendapat kepada pengelola program. Menurutnya, materi penyuluhan sebaiknya dipersingkat, sementara unsur cerita dan humor diperbanyak agar masyarakat lebih tertarik menonton.

"Saya bilang, penyuluhannya dikurangi, disederhanakan saja. Terus ceritanya, guyonannya ditambah. Jadi orang itu nonton pertunjukan, bukan cuma teori," ujarnya.

Alih-alih menolak usul tersebut, pihak TVRI justru menantangnya untuk membuktikan idenya.

"Mereka bilang, 'Ya kamu saja yang buat'," kenangnya.

Tantangan itu diterima. Bersama rekannya, Susilo mulai menyusun naskah baru. Mereka mengubah Mbangun Deso menjadi drama komedi pendek yang tetap memuat pesan penyuluhan, tetapi dikemas lebih ringan dan menghibur.

"Isinya sinetron pendek, ada unsur humornya, tapi tetap disisipi penyuluhan sesuai dinas yang meminta," ujarnya.

Menurut Susilo, perubahan konsep itu membuat Mbangun Deso jauh lebih mudah diterima masyarakat. Jika sebelumnya hampir seluruh durasi acara diisi penjelasan panjang dari penyuluh, kini sebagian besar waktu diisi alur cerita, sementara materi penyuluhan hanya disampaikan sekitar lima hingga sepuluh menit.

"Kalau dulu tamu datang cuma tanya cara menanam padi, terus setengah jam isinya menjelaskan tanam padi. Sekarang enggak. Ceritanya yang diperbanyak, penyuluhannya seperlunya saja," katanya.

Pentasnya itu ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat termasuk dinas-dinas yang bertanggung jawab terhadap penyuluhan itu. Dan hasilnya, lebih dari 17 tahun bapak-bapak antagonis itu menjadi tontonan warga.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Jual Tiket & Promosikan
Acaramu hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
${event.name}

${event.name}

${this.helper.parseDate(event)}
${this.helper.parsePrice(event.price_min)}
Pesan Tiket
`; } renderMultiple(events) { if (!events || events.length === 0) return; this.shadowRoot.innerHTML = `
detikevent

Jual Tiket
& Promosikan Acaramu
hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
`; } renderNone(){ this.shadowRoot.innerHTML = `
No Event Available
`; } } customElements.define("cb-detikevent", CbDetikevent);
Berita detikcom Lainnya
Explore IndonesiaNow
Widespread Strikes Hit Italy as Protesters Take to the Streets Over Rising Cost of Living

Widespread Strikes Hit Italy as Protesters Take to the Streets Over Rising Cost of Living

5 New Movie Recommendations for This Weekend

5 New Movie Recommendations for This Weekend

Read in English `; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Apresiasi dari detikcom terhadap individu, komunitas, organisasi sosial, perusahaan yang telah berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta, baik dari sisi budaya, sosial & inovasi.

`; } constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); this.shadowRoot.innerHTML = CbDetikJatengJogjaAwards.html; } async connectedCallback() { new Swiper(this.shadowRoot.querySelector(".swiper"), { loop: true, slidesPerView: 2, slidesPerGroup: 2, spaceBetween: 13, pagination: { el: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-pagination"), clickable: true, }, navigation: { nextEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-next"), prevEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-prev"), }, }); } } customElements.define("cb-detikjatengjogja-awards", CbDetikJatengJogjaAwards);

Loker Jogja

Komentar Terbanyak

Berita Terpopuler

Hide Ads