Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada kuburan batu di Liang Pongtimban, Kabupaten Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan (Sulsel). Mirisnya, sebanyak 270 jenazah dilaporkan hangus saat situs pemakaman adat kuno tersebut dilalap api.
Kebakaran terjadi di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu Utara, Kecamatan Baruppu sejak Jumat (23/10) hingga Sabtu (24/10). Api yang membakar lahan merambat ke kuburan batu yang menyimpan jenazah dalam lubang pada dinding tebing.
"Itu kuburan namanya liang. Jadi ada belasan atau puluhan liang itu karena tiga titik yang berbeda tempatnya," kata Kepala Satpol PP dan Damkarmat Torut, Riantho Yusuf Sangkelo kepada detikSulsel, Minggu (25/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi di lokasi dilaporkan sudah aman dan kondusif, namun kebakaran ini masih menyisakan sejumlah persoalan. Dirangkum detikSulsel, berikut fakta-fakta karhutla yang menghanguskan kuburan batu di Toraja Utara:
Pemadaman Terhambat Akses Jalan Sulit
Api yang membakar lahan dan pekuburan baru bisa dipadamkan selama dua hari. Petugas damkar sempat terhambat melakukan pemadaman karena akses jalan yang sulit.
"Kendaraan kami tidak memungkinkan masuk ke dalam untuk melakukan pemadaman, karena akses jalan yang susah," beber Riantho.
Personel Satpol dan Damkarmat Toraja Utara pun menggunakan peralatan dari Manggala Agni. Proses pemadaman turut melibatkan tim gabungan dari TNI dan Polri.
"Jadi kami hanya mem-backup teman-teman Manggala Agni. Peralatannya Manggala Agni yang kami gunakan di sana, pompanya kita pakai," tuturnya.
Pelaku Pemicu Kebakaran Sempat Dikejar
Riantho mengungkapkan, api yang memicu kebakaran diduga karena ulah oknum tidak bertanggung jawab. Warga sekitar mengaku sempat melihat seseorang yang dengan sengaja memicu api.
"Mungkin ada unsur kesengajaan atau karena iseng. Itu informasi dari masyarakat," beber Riantho.
Menurut Riantho, warga sempat mengejar terduga pelaku usai membakar lahan sebelum api merambat ke kuburan batu. Namun terduga pelaku berhasil melarikan diri dari lokasi kejadian.
"Penyebabnya itu ada sempat orang yang melihat membakar. Artinya mungkin iseng atau apa, tapi dikejar sama belum diketahui pasti sama masyarakat siapa," jelasnya.
Polisi Selidiki Dugaan Karhutla Disengaja
Polres Toraja Utara pun menyelidiki kasus karhutla yang menghanguskan kuburan batu. Perkara ini diusut setelah lurah setempat melapor ke polisi atas adanya dugaan kesengajaan di balik kebakaran itu.
"Lurah datang, datang ke kantor hari Sabtu (24/10) melaporkan telah terjadi kebakaran di wilayahnya," kata Kapolres Toraja Utara AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat kepada detikSulsel, Selasa (27/10).
Penyidik kepolisian langsung turun ke lokasi sehari setelah menerima laporan. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan saksi secara bertahap.
"Hasil penyelidikannya masih didalami karena masih diambil keterangan saksi-saksi semua. Kan tidak bisa sekaligus langsung diambil keterangan, (setelah itu) baru nanti kami simpulkan," imbuhnya.
Menbud Siap Pulihkan Kuburan Batu Toraja
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kuburan batu di Toraja Utara yang terdampak karhutla. Fadli Zon memastikan akan melakukan pemulihan terhadap situs budaya tersebut.
"Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan dan kita sedang mengumpulkan juga nanti data-datanya yang terkait hal ini apa yang bisa kita lakukan di dalam pemulihannya, restorasinya," ujar Fadli Zon kepada wartawan di Makassar, Selasa (27/10).
Fadli Zon menuturkan, kebakaran bisa dipicu faktor alam karena kekeringan akibat musim kemarau panjang. Dia pun tidak mentoleransi jika kebakaran dilakukan secara sengaja karena merupakan tindak pidana.
"Kalau ada situs-situs yang terdampak, kita akan lakukan inventarisasi dan nanti bagaimana revitalisasi atau restorasi terhadap situs-situs tersebut," jelas Fadli Zon.
270 Jenazah di Kuburan Batu Hangus Terbakar
Sebanyak 270 jenazah dalam kuburan batu di kawasan tebing Kecamatan Baruppu, Kabupaten Toraja Utara, dilaporkan hangus imbas karhutla. Sejumlah jenazah lainnya sempat dievakuasi pihak keluarga.
"Sekitar 270 jenazah yang sudah jadi abu, yang sempat diselamatkan itu ada 14 jenazah, tapi sudah dikembalikan masuk," ungkap Camat Baruppu, Petrus Pongtasik kepada detikSulsel, Kamis (29/10).
Petrus mengungkap, total kawasan terdampak kebakaran mencapai 4,5 hektare di mana 3 hektare di antaranya merupakan area pekuburan. Ratusan jenazah yang hangus tidak sempat dievakuasi karena sulit dijangkau.
"Kan rata-rata liang ini harus dipotongkan bambu baru naik ke atas. Yang dekat-dekat saja bisa diselamatkan itu, yang tinggi itu kita pasrah saja," imbuh Petrus.
Keluarga Dilarang Pindahkan Jenazah
Pihak keluarga pun dilarang memindahkan atau membawa keluar jenazah dari kuburan batu yang terdampak karhutla. Kebijakan itu tertuang dalam surat keputusan (SK) nomor: 01/KB/X/2026 yang diteken Camat Baruppu pada 25 Oktober 2026.
"Tidak boleh membawa keluar atau memindahkan baik jenazah yang utuh maupun jasad yang sudah terbakar menjadi abu," tegas Petrus.
Sementara jenazah yang terbakar dan sudah menjadi abu, selanjutnya akan dibungkus oleh keluarga. Jika ada beberapa jasad sudah tidak diingat identitasnya, maka disatukan untuk dibungkus dan disimpan kembali dalam liang atau lubang makam.
"Untuk membungkus kembali jasad yang sudah jadi abu diberi waktu sampai tanggal 31 (Oktober) akan dibungkus sesuai dengan jenazah yang ada di liang dan tetap ditulis kembali namanya," jelas Petrus.
Tradisi Ma'nene Toraja Diharap Tetap Terjaga
Petrus menegaskan, jenazah dilarang dibawa keluar atau dipindahkan dari kuburan demi menjaga tradisi Ma'nene atau ritual pemindahan atau pembersihan jenazah. Ritual Ma'nene sedianya baru diperkenankan dilakukan pada momen khusus, tepatnya bulan Agustus setiap tahun.
"Alasannya inikan di bulan Agustus baru bisa orang pindahkan ini jenazah untuk menjaga kelestarian Ma'nene di Baruppu. Jadi kita larang keras memindahkan," tegas Petrus.
Dia menyadari ada warga yang sempat memindahkan jenazah keluarganya karena kondisi darurat kebakaran. Kendati begitu, Petrus kembali mengimbau agar jasad yang sempat dikeluarkan dari liang bisa dikembalikan ke lokasi semula.
"Jadi jenazah yang terlanjur pindah karena kondisi darurat tetap dikembalikan ke tempat semula. Kalaupun liang tidak layak, maka akan dititip di tetangga liang lain di lokasi tersebut," pungkasnya.
Simak Video "Video: Perjuangan Warga Menembus Asap, Jarak Pandang Terbatas Bahayakan Lalu Lintas"
[Gambas:Video 20detik](sar/sar)































































