Komitmen bikin petani daerah naik kelas diwujudkan dengan langkah nyata dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan). Komoditi hasil panen petani binaan ini dikirim langsung ke luar negeri guna memutus mata rantai ekspor sehingga margin keuntungan petani dapat maksimal.
Transformasi hilirisasi ini ditandai dengan pelepasan perdana ekspor hortikultura komoditi salak seberat 20 ton di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sleman, hari ini.
"Salak ini (diekspor) ke Kamboja. Kira-kira taksirannya 20 ton Salak," jelas Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura selaku Project Director Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP), Freddy, S.T.P., M.Sc., M.P.S., Ph.D., saat ditemui detikJogja, Kamis (29/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ini kan kita minta bertahap ya, seperti bayi, kita mau naik kelas kan nggak mungkin langsung terbang. Ini pertama, masih individu melalui perantara, yang penting dia dapat cash dulu. Kalau dia langsung ke negara tersebut, biayanya besar dan tempo, biasanya petani belum sanggup," imbuhnya.
Langkah strategis ini, kata Freddy, adalah bagian dari program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP). Program ini bertujuan untuk mentransformasi sistem agribisnis nasional di kawasan lahan kering melalui pendekatan yang komprehensif dari hulu hingga hilir, termasuk urusan ekspor komoditi yang dilakukan hari ini.
Freddy bilang, langkah ini akan memotong mata rantai ekspor, yang awalnya bagi petani cukup sulit dilakukan. Petani juga diajari bagaimana memenuhi standar produk ekspor.
"(Selama ini) Mereka ke pengepul. Nah bahkan sebenarnya pengepul-pengepul ini pun jual ke pengekspor. Nah yang ada yang pengepul untuk ekspor. Nah mungkin yang eksportir-eksportir dulu tahu caranya membersihkannya, petani-petani ini belum tahu karena mereka masih sendiri-sendiri ya," ujarnya.
Pelepasan perdana ekspor komoditi salak di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sleman, Jumat (30/10/2026). Foto: dok. Humas HDDAP |
"Kalau ekspor kan perlu (memperhatikan), kemasannya, size-nya, kemasannya, jadi kita sesuaikan. Jadi artinya ini Kementerian Pertanian memberi fasilitas agar tidak perlu lewat pengepul, itu tujuan kami. Nah itu nanti kan memotong mata rantai dan marginnya di kelembagaan," sambung Freddy.
Program HDDAP saat ini menjangkau 7 provinsi dan 13 kabupaten yang menjadi basis lahan kering utama di Indonesia. Seperti Kabupaten Dairi, Karo, Pakpak Bharat, Sumedang, Batang, Wonosobo, Sumenep, Gresik, Lumajang, Buleleng, Ende, Enrekang hingga Gowa.
Setiap kabupaten memiliki komoditi unggulan masing-masing. Sedangkan salak yang dikirim ke Kamboja hari ini, adalah komoditas unggulan asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Varietas Salak Pondoh Nglumut dari Klaster Watumalang 1 dan 2 ini melibatkan kerja sama strategis antara Koperasi Produsen Hortikultura Wonosobo Dua Watumalang dan Koperasi Produsen Hortikultura Wonosobo Tiga Tripis dengan pihak eksportir CV Agronusa.
"Ada durian dari Buleleng, lalu mangga Gedong Gincu di Sumedang, lalu di Karo itu banyak pisang, Pisang barangan, jeruk di Lumajang ada pisang tanduk. Jadi beragam. Kalau yang diekspor itu salak dari Wonosobo," papar Freddy.
Selain peluncuran ekspor perdana komoditas salak senilai Rp 360 juta ini, dilakukan pula penandatanganan dokumen Expression of Interest (EoI) kemitraan pemasaran guna memperluas jaringan ekspor internasional secara berkelanjutan. Sehingga jika komoditi daerah lain sudah siap, bisa langsung diekspor.
"Pemasarannya harus, kalau bisa, ekspor. Makanya, selain dari peluncuran kelembagaannya, kita langsung ada satu yang kita lakukan, fasilitasi kemitraan ekspor. Dan itu semua nanti di semua penerima manfaat ini, kita harus naikkan kelas mereka," pungkas Freddy.


































































